Another great RocketTheme Joomla Template brought to you by the RocketTheme Joomla Template Club.

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday66
mod_vvisit_counterYesterday84
mod_vvisit_counterThis week308
mod_vvisit_counterThis month252
mod_vvisit_counterAll6611
dewiku
Add to Google Reader or Homepage
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Powered by  MyPagerank.Net
Blog Advertising - Get Paid to Blog
Komunitas Joomla Indonesia
Home
Dia Mencium Wangi Surga
Written by Muhammad bin Shalih Al-Qahthani   
Tuesday, 24 June 2008

Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “ Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”

Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,”Wah …. angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud.”

 

            Seorang Doktor bercerita kepadaku, “ Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

 

            Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya –semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh.

Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?

           

            Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka,

 

Be first to comment this article | Add as favourites (3) | Quote this article on your site | Views: 23

Read more...
 
Menyemai Benih Keberhasilan
Written by Muhammad Rizqon   
Tuesday, 24 June 2008

Pagi itu, suasana kantor di Jalan Demang Lebar Daun masih sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tetapi belum banyak pegawai yang berdatangan hadir ke kantor.

Ahmad dan saya, adalah pegawai yang baru dimutasi ke kantor ini dari kantor pusat di Jakarta. Kami datang sendiri, sementara keluarga kami tinggal di Jakarta. Status kami yang bujang lokal ini, menjadikan kami tanpa hambatan untuk datang pagi-pagi ke kantor. Lain halnya dengan teman-teman lokal atau teman yang telah memboyong keluarganya di sini, mempersiapkan anak untuk berangkat sekolah dan mengantarkannya, adalah kesibukan rutin yang sering menjadi alasan untuk terlambat datang ke kantor.

Di tengah kondisi kantor yang terancam pembubaran dan ketidakpastian, kehadiran pegawai memang tidak terkendali. Bahkan untuk urusan absen pagi dan sore saja, telah dijadwal orang-orang tertentu secara bergiliran (dalam satu pekan) untuk melakukannya. Hari Senin, yang datang dan mengabsenkan pegawai lainnya (yang tergabung dalam sindikasi) adalah si A. Hari Selasa, oleh si B. Hari Rabu oleh si C, dan seterusnya. Sehingga bisa terjadi, dalam sepekan, seorang pegawai tidak perlu datang ke kantor, atau datang ke kantor bilamana perlu saja.

Be first to comment this article | Add as favourites (3) | Quote this article on your site | Views: 28

Read more...
 
Penjual Bubur Ayam dan Bubur Kacang Ijo
Written by Asiyah Maryam   
Tuesday, 24 June 2008

Aku sangat menyukai bubur ayam, baik bubur ayam Bandung ataupun bubur ayam Betawi. Dan favoritku adalah bubur ayam yang biasa mangkal di depan kantor. Saban pagi hari, aku akan mampir dulu ke sana untuk beli bubur ayam sebagai santap pagi.

Bubur ayam ini selalu ramai dikunjungi khalayak. Antriannya panjang, aku bisa menghabiskan waktu 15 menit untuk mendapatkan pesanan. Telat sedikit saja, aku harus menunggu sampai esok pagi. Kadang-kadang penjual bubur ayam tersebut juga menerima orderan yang sangat banyak. Pokoknya, penjual bubur ayam ini selalu kewalahan menghadapi pelanggannya. Sebenarnya, inilah yang membuat aku ingin mencoba bubur ayam ini ketika pertama kali ke sana, ya…antriannya itu! Itu kan tanda bubur ayamnya enak. Dan ternyata aku tidak salah pilih, bubur ayamnya memang lezat.

Di sebelah penjual bubur ayam ini, ada juga gerobak-gerobak lain, salah satunya adalah penjual bubur kacang ijo. Kontras sekali dengan tetangganya, gerobak bubur kacang ijo ini relatif sepi. Benar-benar beda!
Dan aku sangat takjub suatu kali. Ketika itu, aku sedang menunggu pesanan bubur ayamku. Si penjual bubur ayam saat itu benar-benar kewalahan. Orderannya benar-benar banyak. Ada yang minta dibungkus dan ada pula yang minta pesanan yang dimakan di tempat. Sementara itu, mangkoknya banyak yang belum tercuci.

Be first to comment this article | Add as favourites (3) | Quote this article on your site | Views: 25

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 4 of 61
Joomla Template re-design by dee.ill4