Beauty

Aku Pergi ke Kantor Tanpa Bra, Ini Reaksi Orang di Sekelilingku

Aku menemukan fakta mengejutkan ketika mencoba keluar tanpa menggunakan bra.

Rendy Adrikni Sadikin

Ilustrasi implan payudara. (Unsplash/Brooke Cagle)
Ilustrasi implan payudara. (Unsplash/Brooke Cagle)

Dewiku.com - Bra. Hubungan perempuan dengan benda ini bagaikan benci dan cinta. Di satu sisi, mereka bisa memicu 'keajaiban' bagi dada perempuan. Mereka suportif, sangat fungsional dan bisa membuat perempuan seksi dalam sekejap mata.

Tapi, di sisi lain, memakai mereka sama saja dengan menekan dada dalam balutan korset: mencubit, menyakit dan bukan hal yang diperlukan amat.

Seperti dikutip dari THE SUN, hal ini yang dirasakan oleh Michelle Court, seorang freelancer. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak mengenakan bra saban hari. Bahkan, ketika dia mesti menjalankan rutinitasnya di kantor.

*****

Aku dan dadaku yang berukuran 34DD sangat benci bila dikekang. Gara-gara itu, aku memilih untuk tidak mengenakan bra--atau pakaian dalam apapun. Sebuah keputusan yang aku ambil.

Ini adalah hal pertama yang aku rasakan ketika pulang kerja. Aku pun jarang memakainya (bra--RED) di akhir pekan. Tapi, seiring waktu berjalan, aku merasa dihakimi jika aku keluar tanpa mengenakannya, terutama di tempat kerja. Tapi, ternyata aku tidak sendiri.

Penelitian baru mengklaim bagaimana seorang wanita sering merasa tertekan dengan apa yang mereka kenakan di balik pakaian mereka.

Di awal 2018, seorang wanita Kanada dipecat setelah menolak untuk mengenakan bra ketika bekerja sebagai pelayan di sebuah klab golf. Pun demikian di tahun 2017, seorang gadis asal Kent dipulangkan dari sekolahnya karena tidak mengenakan bra.

Kekinian, perempuan-perempuan di seluruh dunia mempertanyakan ekspektasi sosial bahwa perempuan mesti mengenakan bra--seperti yang mereka terapkan dengan sepatu hak tinggi alias heel.

Di antara pelaku kampanye anti-bra, adalah Chidera Eggreue, 23 tahun, fashion blogger yang membuat tagar #SaggyBoobsMatter di media sosial. Dia menyoroti masalah yang dihadapi perempuan dengan dada besar yang emoh mengenakan bra.

"Di usia 19 tahun, aku memutuskan untuk tidak mengenakan bra dan diserang banyak kritik. Aku diberitahukan bahwa hanya perempuan dengan dada kecil yang bisa tanpa bra," ujar Chidera.

Chidera mengimbuhkan, "aku ingin membuka diskusi tentang bahwa kita memandang tubuh perempuan dan mengapa publik berhak mengatur-atur hal tersebut."

Aku setuju dengannya (Chidera--RED). Ketika sampai pada diskusi itu, kenapa kita harus menggunakan bra?

Sebagai eksperimen, aku memutuskan sehari untuk berangkat kerja tanpa menggunakan bra. Aku bekerja sebagai freelancer. Jadi, rutinitas harianku pun bervariasi.

Satu hari aku bisa berada di studio untuk mengambil foto atau bekerja sebagai makeup artist (MUA). Dan, hari berikutnya, aku bisa saja bekerja kantoran, duduk di belakang meja dan dikeliling orang-orang berseragam.

Untuk pakaian kantoran, aku suka berdandan smart dengan sepatu hak tinggi dan dress. Tapi ketika aku bekerja tanpa bra, aku bisa melihat perbedaannya. Dadaku terlihat jelas menonjol di balik dress yang aku kenakan. Namun, aku tidak peduli.

Aku berusia 34 tahun dan tidak memiliki anak. Tidak ada yang mengatur hidupku. Jadi, tidak mengenakan bra membuatku merasa bebas. Sangat bebas.

Ketika berjalan melalui pintu depan, aku merasa percaya diri, seksi, dan cuek. Pokoknya, aku sangat menikmatinya. Sekejap, beberapa orang memandang dan memalingkan mukanya ke arahku.

Aku melintasi Jembatan London, Inggris. Beberapa orang memandangku. Salah seorang laki-laki bersiul ke arahku. Ada pula seorang pria yang bertanya kepadaku, "berapa (tarifnya--RED)?". Sekejap aku merasa belahan dadaku sangat murah. Bagaimanapun aku cuek. Aku tidak akan membiarkan mereka membuatku 'kalah'.

Di kantor di belakang mejaku, aku merasa nyaman. Bagaikan mengenakan piyama di rumah. Tidak ada kawat yang mengekangku. Ini membuatku banyak berubah. Aku pun tidak akan kaget jika ini sangat membantu produktivitasku.

Tidak seperti hari biasa. Jalan-jalan di dalam kantor kini sangatlah berbeda. Aku berbicara dengan staf--seorang laki-laki dan perempuan--di belakang konter. Kepada mereka, aku mengatakan bahwa aku memutuskan tidak mengenakan bra hari ini. Aku pun meminta tanggapan mereka.

Perempuan yang aku mintai tanggapan berkata, "wow, dadamu terlihat bagus." Sementara, laki-laki di sebelahnya hanya tersenyum sopan. Tapi, dia tidak menagih uang untuk kopi yang aku beli. Aku menilai laki-laki itu memiliki tanggapan serupa dengan perempuan di sebelahnya.

Nah, ketika di kantin, ada kejadian menarik pula. Sejumlah laki-laki memberikan antreannya untukku. Mereka mempersilahkan aku lebih dulu. Sementara, beberapa lainnya tampak memandangku.

Kenyataannya, satu hal yang menurutku paling mengejutkan adalah reaksi berbeda antara laki-laki dan perempuan. Aku mengira perempuan di sekelilingku yang mendukung pengalamanku tanpa bra ini. Ternyata, para laki-laki yang malah membuatku merasa nyaman dengan diriku.

Rata-rata, ketika melihatku, para perempuan cenderung mengajari, memutar mata, nyinyir serta berkomentar pedas dengan teman mereka. Ini benar-benar membuatku terkejut.

Jadi, apakah aku pulang ke rumah dan membakar seluruh bra yang aku miliki dalam sebuah ritual feminis? Hmm tidak juga.

Sejak eksperimen yang aku lakukan, ada beberapa hari kerja di mana aku pergi ke kantor tanpa menggunakan bra. Tapi itu pun tergantung dari mood aku saat itu.

Tak bisa dipungkiri, keluar tanpa bra benar-benar menambah kepercayaan diriku. Tapi, pada akhirnya, aku tetap berpikir bahwa ini tergantung dari pilihan pribadi masing-masing.

Menariknya, musim panas lalu, retailer besar Mark & Spencer (M&S) melaporkan bahwa penjualan bralette--bra alternatif tanpa kawat dan tanpa struktur--naik sebanyak 200 persen dari tahun ke tahun.

Jadi sepertinya, banyak orang yang memang terkekang dengan kawat di bra dan cenderung untuk tampil lebih alami, seperti yang aku lakukan.

Terlepas dari itu, apakah anda memiliki dada besar atau dada kecil, mengenakan bra atau tidak, apa pun pilihan yang Anda buat, aku percaya bahwa perempuan harus bebas untuk memakai apapun yang mereka inginkan tanpa dihakimi atau menghadapi penolakan.

Berita Terkait

Berita Terkini