Pantang Menyerah, Alumni Wirausaha Merdeka Lanjutkan Bisnis Inspiratif

Begini sepak terjang alumni Wirausaha Merdeka melanjutkan bisnis yang telah mereka rintis.

By: Rima Sekarani Imamun Nissa icon Senin, 01 Juli 2024 icon 07:00 WIB
Pantang Menyerah, Alumni Wirausaha Merdeka Lanjutkan Bisnis Inspiratif

Tiara Arni Maitsaa menjalankan bisnis di bidang industri kreatif yang diberi nama Ecopita. (Dok.Istimewa)

Sebagai salah satu bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Program Wirausaha Merdeka (WMK) berperan dalam menghasilkan mahasiswa yang mandiri, kreatif, dan inovatif dalam berbisnis. Membangun bisnis bukan perkara mudah, tetapi hal tersebut tidak mengecilkan semangat Alumni Wirausaha Merdeka (Awisaka) dalam mengembangkan bisnis, bahkan setelah Program WMK selesai dilaksanakan.

Dua alumni Program Wirausaha Merdeka Angkatan 2, yakni Fadil Fahrozi Harahap dan Tiawirara Arni Maitsaa, membagikan perjuangan mereka dalam membangun sekaligus menjaga bisnis agar tetap berkelanjutan. Keduanya sama-sama menjalani Program Wirausaha Merdeka di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Fadil Fahrozi Harahap yang akrab disapa Ozi memiliki bisnis bernama Preneurlab. Ini adalah bisnis education technology di bidang digital yang bertujuan meningkatkan jiwa kewirausahaan mahasiswa dan anak muda generasi Z. Sementara, Tiara Arni Maitsaa memilih bisnis di bidang industri kreatif, tepatnya eco-fashion sebagai solusi produk-produk ramah lingkungan, yang diberi nama Ecopita.

Baca Juga: 4 Zodiak Paling Jago Bisnis, Ide Jualannya Cuan Terus

Fadil Fahrozi Harahap menjalankan Preneurlab, bisnis education technology di bidang digital. (Dok.Istimewa)
Fadil Fahrozi Harahap menjalankan Preneurlab, bisnis education technology di bidang digital. (Dok.Istimewa)

"Masyarakat, terutama gen Z di Indonesia berpotensi menjadi wirausaha, tetapi sayangnya tidak ada yang mewadahi mereka," ungkap Ozi yang berkuliah di Prodi Pendidikan Teknik Elektronika, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dikutip dari siaran pers yang diterim Dewiku.com.

Sementara, Tiara menyebutkan bahwa industri kreatif di Indonesia berkembang pesat, tetapi produk fast fashion masih sangat banyak. "Hal itu memengaruhi kondisi lingkungan dan sampah, sehingga saya mencari cara untuk menanggulangi atau mengatasi bisnis fast fashion agar menjadi slow fashion."

Salah satu langkah yang dilakukan Ozi dan Tiara untuk membangun bisnis adalah dengan mengikuti Program Wirausaha Merdeka. Ozi memilih Program WMK karena terdapat efek jangka panjang dari segi relasi, ilmu, dan pengalaman. Tiara sendiri sudah memiliki pengalaman bisnis di kala pandemi dan ingin mengembangkan bisnisnya dengan mengikuti Program WMK Angkatan 2.

Baca Juga: Studi di Luar Negeri Perkuat Keterampilan Wirausaha Mahasiswa, Kok Bisa?

Keduanya tentu menghadapi berbagai tantangan. Pertama, ada tantangan komunikasi dalam tim selama Program WMK berjalan. Tiara harus melakukan brainstorming ulang dengan tim mengenai konsep bisnis mereka. Senada dengan hal tersebut, startup yang dimiliki Ozi baru dibuat beberapa bulan sebelum Program WMK sehingga komunikasi tim dinilai masih kurang.

Tantangan lain muncul ketika keduanya memutuskan melanjutkan bisnis setelah Program WMK usai dilaksanakan. Ada masalah pendanaan, pendapatan, hingga masalah internal yang perlu dihadapi.

"Kendala di pendanaan, sehingga saat ini sedang mencari pendanaan," ujar Tiara.

Tidak hanya itu, Tiara juga merasa perlu membangun jiwa leadership untuk mengatasi masalah internal dalam tim. "Saya menganalisis bagaimana nantinya jika saya menjadi ketua dan bagaimana cara memperhatikan tim saya."

Di sisi lain, Ozi mengungkapkan, "Tantangan selama ini kembali ke revenue, karena berbentuk startup dan revenue belum stabil. Solusinya, saya melakukan banyak business pitching untuk menarik perhatian investor."

Program WMK terbukti membantu dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Selama mengikuti Program WMK di UGM, Ozi mempelajari cara menarik investor hingga marketing. Ilmu tersebut membantu bisnis Ozi bertahan hingga sekarang. Sedangkan Tiara mendapat kesempatan untuk menghubungkan ilmu yang ia peroleh selama berkuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM dengan ilmu saat mengikuti Program WMK, yaitu melalui pembuatan copywriting untuk keperluan pemasaran.

Manfaat lain dari Program WMK yang berpengaruh besar pada keberlangsungan bisnis adalah soal membangun relasi atau jaringan. Relasi merupakan salah satu hal vital dalam berbisnis.

"Ketika tidak ada WMK, prestasi yang saya dapatkan sampai sekarang tidak akan ada. Kedua, relasi dengan teman-teman dari luar universitas saya juga tidak akan ada tanpa WMK," tutur Ozi.

Baca Juga: Mau Seru-seruan Bareng Kampus Mengajar? Begini Caranya

"Adanya WMK menjadi salah satu jalur penghubung untuk relasi, ilmu, dosen, dan lain-lainnya. Mahasiswa benar-benar diberikan dukungan lebih untuk menjadi entrepreneur," tambah Tiara membenarkan.

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI