Lifestyle

Cerdas, Mahasiswi Ini Bikin Revolusi untuk Mengatasi Epilepsi

Sebuah terobosan dari perempuan berusia 19 tahun.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Yasinta Rahmawati

Ilustrasi epilepsi. (Shutterstock)
Ilustrasi epilepsi. (Shutterstock)

Dewiku.com - Penyakit epilepsi mungkin tidak asing di telinga kita, yakni istilah umum yang berarti kecenderungan untuk kejang. Kabar terbarunya, kini seorang mahasiswi tengah mengembangkan perangkat untuk mengatasi epilepsi.

Dilansir dari Next Shark, Christine Liu mulai melakukan penelitian tentang epilepsi di tahun kedua SMA. Ia sendiri tertarik meneliti penyakit tersebut karena adik laki-lakinya didiagnosis epilepsi ketika berumur 2 tahun dan mengalami kejang pertama saat berusia 6 bulan.

Epilepsi sendiri adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan kejang berulang dan tak terkendali serta diperkirakan mempengaruhi lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia. Penyebab gangguan ini umumnya tidak diketahui dan tidak ada obatnya, meskipun obat tertentu dapat berguna dalam mengendalikan kejang untuk banyak pasien.

Christine Liu berkesempatan untuk menghubungi seorang profesor di Emory University yang kemudian menawarkan Christine posisi di laboratorium.

Setelah belajar sendiri dan bermain-main dengan banyak data yang telah dikumpulkan di laboratorium dan internet, ia pun mengembangkan model pembelajaran mesin yang dapat memprediksi serangan kejang epilepsi.

Christine Liu. (Linkedin/Chritine Liu)
Christine Liu. (Linkedin/Chritine Liu)

Proyek ini lalu memenangkan Penghargaan Besar di Intel International Science and Engineering Fair, yakni acara sains sekolah global terbesar dan paling terkenal di dunia.

Christine yang sekarang menjalani tahun keduanya di Standford university masih membangun model pembelajaran mesin tersebut dengan harapan bisa segera dipakai dan mengubah kehidupan pasien epilepsi.

Penelitiannya memiliki dua aliran: pencegahan dan prediksi.

Christine menjelaskan, jika kita dapat memprediksi dan memperingatkan pasien secara akurat ketika kejang akan terjadi, kondisi kesehatan bakal meningkat secara signifikan. Pasalnya, sisi efek serangan epilepsi yang tidak diharapkan biasanya lebih berbahaya daripada kejang itu sendiri.

''Idenya adalah bahwa jika kamu memiliki semacam perangkat yang dapat diakses dan sesuai dengan jadwal sehari-hari mereka, maka kamu dapat terus-menerus menyadari kapan kemungkin kejang itu terjadi dan sebagainya,'' jelasnya.

Ilustrasi epilepsi. (Shutterstock)
Ilustrasi epilepsi. (Shutterstock)

Dengan cara itu, penderita epilepsi akan terhindar dari risiko mengalami kejang saat berkendara atau aktivitas fisik lainnya.

Menurut Christine, perangkat yang sedang dikembangkan berbentuk halus, ramping, kedap air, serta bisa dikenakan seperti ikat kepala. Perangkat itu nantinya terintegrasi dengan aplikasi di ponsel.

Aplikasi ini akan memberi tahu pasien tentang kejang yang akan datang dan menawarkan antisipasi untuk kontak darurat.

Namun jalan Christine untuk mewujudkan perangkat tersebut masih jauh. Masih banyak aspek yang perlu diperhatikan, seperti masalah keamanan dan kesehatan lainnya.

Mari kita tunggu perangkat yang bisa mengubah kehidupan pasien epilepsi di masa depan ini.

Berita Terkini