Lifestyle

Minum Teh Panas Bisa Meningkatkan Risiko Kanker, Ini Kata Studi

Teh panas rupanya bisa membawa penyakit ganas.

Dinar Surya Oktarini | Yasinta Rahmawati

Ilustrasi minum teh. (Unsplash/Drew Coffman)
Ilustrasi minum teh. (Unsplash/Drew Coffman)

Dewiku.com - Minum teh sudah jadi kebiasaan banyak orang setiap hari, apalagi teh panas yang diseduh saat hawa dingin. Selama ini teh diklaim memberi banyak manfaat, tapi hasil penelitian terbaru tentang teh panas mungkin membuatmu berubah pikiran.

Dilansir dari Next Shark, sebuah tim peneliti dari Iran menemukan bahwa peminum teh yang lebih suka minuman mereka pada suhu 60 derajat Celcius (140 derajat Fahrenheit) atau lebih dan minum lebih dari 700 ml (kira-kira dua gelas besar) sehari memiliki risiko 90% lebih tinggi terkena kanker esofagus atau kerongkongan.

Risiko itu lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi lebih sedikit teh dengan suhu yang lebih dingin. Studi ini diterbitkan di International Journal of Cancer.

Ilustrasi teh hitam. (Unsplash)
Ilustrasi teh hitam. (Unsplash)

 

Studi ini memeriksa 50.045 individu berusia 40 hingga 75 tahun di Golestan, sebuah provinsi di Iran timur laut, selama periode rata-rata 10 tahun. Para peneliti mendeteksi 317 kasus baru kanker kerongkongan dari 2004 hingga 2017.

"Banyak orang menikmati minum teh, kopi, atau minuman panas lainnya," kata pemimpin penulis Dr. Farhad Islami , yang bertindak sebagai direktur strategis American Cancer Society (AMC).

"Namun, menurut laporan kami, minum teh yang sangat panas dapat meningkatkan risiko kanker kerongkongan, dan karena itu disarankan untuk menunggu sampai minuman panas menjadi dingin sebelum minum," tambahnya.

Sementara penelitian sebelumnya telah mengamati hubungan antara konsumsi teh panas dan kanker kerongkongan, penelitian ini adalah yang pertama untuk menentukan kisaran suhu.

Ilustrasi minum teh. (Unsplash/Drew Coffman)
Ilustrasi minum teh. (Unsplash/Drew Coffman)

 

Menurut Badan Internasional untuk Penelitian Kanker, kanker kerongkongan menempati urutan kedelapan di dunia dan menewaskan sekitar 400.000 orang setiap tahun. Ini umumnya disebabkan oleh distraksi berulang-ulang ke kerongkongan oleh asap, alkohol, refluks asam dan panas.

Temuan ini sangat relevan untuk peminum teh di daerah di mana minuman biasanya disajikan panas, berbeda dengan Amerika Serikat dan Eropa Barat, di mana teh biasanya diminum setelah suhunya dingin.

Berita Terkait

Berita Terkini