Lifestyle

Dilematik Ibu dan Anak Digital

Ibu masa kini dituntut peka terhadap penggunaan gadget pada anak.

Rima Sekarani Imamun Nissa

Mendampingi anak bermain gadget. (Shutterstock)
Mendampingi anak bermain gadget. (Shutterstock)

Dewiku.com - Fenomena anak melek gadget adalah hal umum yang terjadi sekarang. Logikanya, kenapa ibu memberikan gadget kepada anak? Mengapa benda itu bisa merayu anak sampai kecanduan gadget?

Ibu Diena, Founder Yayasan (SEJIWA) Semai Jiwa Amini, mengungkapkan, gawai itu sekarang menjadi babysitter untuk anak. Kemudahan bagi ibu-ibu muda yang memiliki anak berumur di bawah 10 tahun untuk membuat mereka anteng. Sayangnya, ini merupakan awal dari musibah bagi anak.

Mom, gadget memang menarik dan mengasikan sekali untuk dimainkan, apalagi setelah rasa lelahnya mengurus keperluan rumah tangga ataupun pulang dari kantor.

Meski begitu, penting bagi ibu untuk mendampingi anak saat menggunakan gawai. Harus tahu dan mengenal Screen Time, yaitu waktu yang dianjurkan untuk penggunaan gawai seperti yang dijelaskan oleh Founder Yayasan SEJIWA sebagai berikut:

  • 0 - 1,5 tahun tidak boleh menggunakan gawai.
  • 2 – 5 tahun maksimal 1 jam. Sudah boleh diperkenalkan gawai dengan konten yang berkualitas dan masih orangtua yang memegangnya.
  • 6 – 12 tahun maksimal 2 jam, belum boleh memiliki dan masih didampingi orangtua.
  • 13 – 15 tahun maksimal 3 jam, orangtua baru boleh mempercayai anak memegang gawai.
  • Anak 16 – 18 tahun, penggunaan maksimal 4 jam.
Anak-anak main game. (Shutterstock)
Anak-anak main game. (Shutterstock)

 

Saat menggunakan gadget pun harus ada Screen Break yaitu, waktu untuk mengistirahat diri dari gadget. Kemandirian anak harus dibangun dengan kebiasaan positif.

Penting rasanya mendampingi anak saat menggunakan gadget yang memang memiliki manfaat positif bagi kehidupan manusia, tentunya juga untuk berbagai kalangan. Hanya saja, selalu ada dua sisi dalam apapun sehingga gadget memiliki dampak negatifnya juga, seperti pornografi, cyber bullying, dan adiksi kepada games.

Kajian dari Kemenkes RI bekerjasama dengan Kemendikbud di tahun 2017 menyebutkan bahwa dari 6.000 anak di 3 kota yaitu, Aceh, Jakarta, dan Yogyakarta, sebanyak 95,1% anak SMP – SMA terdeteksi sudah terpapar pornografi.

Dampak pornografi dapat mengganggu perkembangan otak anak, bahkan merusak otak lebih parah dari narkoba. Otak manusia mature di umur 25 tahun, Kalau sebelum umur 25 sudah terganggu, ada beberapa dampak negatif yang mesti ditanggung, seperti perkembangan akan nalarnya tidak jalan.

Menjadi korban body shaming di media sosial. (Shutterstock)
Ilustrasi menjadi korban cyber bullying. (Shutterstock)

 

Orangtua memiliki dua tugas yaitu mendampingi dan melindungi. Ada baiknya menerapkan aturan dari Dikbud untuk tidak menggunakan gawai pada jam 6 – 9 malam karena itu waktunya belajar, makan, dan interaksi bersama keluarga.

Harus ada kesepakatan free screen zone juga, yakni area di mana tidak boleh menggunakan gadget di tempat tersebut. Area yang dimaksud adalah ruang kamar dan ruang makan. Tidak hanya anak tetapi semua anggota keluarga wajib mengikuti peraturan tersebut agar tidak menimbulkan adanya rasa iri.

Di sisi lain, seorang ibu harus tahu literasi digital, peranan melindungi dan mendampingi di dunia gawai, serta harus hadir juga peranan sang ayah. Konsistensi dari kedua orangtua dalam fenomena seperti ini sangat dibutuhkan. Jadi, bagaimana, Mom? Masih mau memberikan anak gadget biar anteng?

 

Raniyah Basahil (Mahasiswi London School of Public Relations, Jakarta)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca DewiKu.com. Isi dari artikel ini merupakan tanggung jawab penulis, bukan redaksi DewiKu.com.

Berita Terkait

Berita Terkini