Ragam

Tren Kecantikan 2026: Dari Biotech Beauty hingga Skincare Berbasis Sains Kian Digemari

Tren kecantikan 2026 mengarah ke biotech beauty, wellness, dan bahan natural berbasis sains. Konsumen kini makin kritis soal keamanan, transparansi, dan keberlanjutan.

Vania Rossa

Future Beauty Talk (FBT) 4.0. (dok. ist)
Future Beauty Talk (FBT) 4.0. (dok. ist)

Dewiku.com - Industri kecantikan lagi bergerak ke arah yang lebih “cerdas”—nggak cuma soal hasil instan di kulit, tapi juga tentang sains, transparansi, dan keberlanjutan. Dari skincare sampai makeup, konsumen sekarang—terutama Gen Z—makin kritis soal apa yang mereka pakai, dari kandungan hingga dampaknya ke lingkungan.

Menjawab perubahan ini, Martha Tilaar Group lewat PT Cedefindo kembali menghadirkan Future Beauty Talk (FBT) 4.0, sebuah forum tahunan yang membahas masa depan industri kecantikan. Tahun ini, temanya cukup bold: “Beauty Reimagined: Biotech, Wellness & The Next Cosmetic Frontier.”

Bukan sekadar talkshow biasa, acara ini jadi ruang diskusi antara pelaku industri, peneliti, hingga expert global. Nama-nama seperti Dr. Kilala Tilaar, Maily dari Martha Tilaar Innovation Centre (MTIC), hingga Stacey Fraser dari University of Canterbury ikut berbagi insight soal tren dan inovasi terbaru.

Salah satu highlight yang lagi naik daun adalah biotech beauty—penggunaan teknologi seperti bio-fermentasi, exosome, hingga bahan biomimetik untuk menciptakan produk yang lebih efektif, aman, dan tetap ramah lingkungan. Jadi, bukan cuma “natural”, tapi juga punya dasar ilmiah yang kuat.

Di sisi lain, konsep kecantikan juga makin luas. Nggak lagi berhenti di tampilan luar, tapi sudah masuk ke ranah wellness, bahkan hingga neurocosmetics dan longevity science—yang fokus pada kesehatan kulit jangka panjang dan hubungan antara kulit dengan kondisi emosional.

Menariknya, Indonesia punya modal besar di tren ini. Kekayaan biodiversitas lokal membuka peluang besar untuk menciptakan bahan baku natural yang bisa bersaing secara global. Hal ini juga yang terus dikembangkan oleh Martha Tilaar Innovation Centre lewat riset bioprospeksi berkelanjutan.

Hasilnya? Berbagai ekstrak natural yang sudah terstandarisasi dan terbukti secara ilmiah, yang kemudian diaplikasikan dalam pengembangan produk kecantikan. Semua prosesnya pun didukung oleh pengujian laboratorium dengan standar Good Clinical Practice (GCP), jadi klaim produk nggak asal.

Nggak cuma soal inovasi, FBT 4.0 juga menghadirkan inisiatif baru berupa apresiasi untuk brand dan distributor yang aktif menggunakan bahan baku lokal Indonesia. Ini jadi langkah penting untuk mendorong industri kecantikan yang nggak hanya maju secara teknologi, tapi juga kuat secara identitas.

Menurut Dr. Kilala Tilaar, masa depan industri kecantikan memang akan jauh lebih kompleks.

“Ke depan, industri ini tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga tentang sains, keberlanjutan, dan bagaimana memahami kebutuhan konsumen secara lebih holistik,” ujarnya.

Di balik semua itu, peran pemain industri seperti PT Cedefindo juga semakin krusial. Sebagai contract manufacturer, mereka nggak cuma memproduksi, tapi juga mendampingi brand dari tahap ide, riset tren, hingga formulasi produk yang siap bersaing di pasar.

Akhirnya, arah baru dunia kecantikan ini terasa makin jelas: lebih mindful, lebih berbasis sains, dan lebih terhubung dengan gaya hidup. Karena di era sekarang, cantik bukan cuma soal hasil akhir—tapi juga tentang proses, nilai, dan cerita di baliknya.

×
Zoomed

Berita Terkait

Berita Terkini