Sejarah Tradisi Seserahan Pernikahan, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman VOC

Bagaimana awal mula tradisi seserahan pernikahan?

By: Rima Sekarani Imamun Nissa icon Rabu, 10 Juli 2024 icon 14:15 WIB
Sejarah Tradisi Seserahan Pernikahan, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman VOC

Ilustrasi Pasangan Menikah (Pexels/Trung Nguyen)

Belum lama ini, Ayu Ting Ting disorot karena rencana pernikahan dirinya dengan Muhammad Fardana batal. Sang mantan kemudian disebut meminta Ayu Ting Ting mengembalikan seserahan yang sebelumnya saat mereka bertunangan pada Februari lalu.

Terlepas dari kandasnya kisah cinta Ayu Ting Ting dan Muhamamad Fardana, seserahan merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan jelang pernikahan. Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah tradisi seserahan muncul di Indonesia?

Melansir Suara.com, seserahan berasal dari kata serah yang berarti memberikan sesuatu. Seserahan kemudian diartikan sebagai ritual penyerahan sejumlah barang yang berupa perlengkapan dalam berumah tangga sebagai tanda asih kekeluargaan dari calon pengantin laki-laki kepada calon pengantin perempuan.

Baca Juga: Ayana Hospitality Gelar Wedding Showcase Vows & Veils, Catat Tanggalnya

Mengutip buku Jean Gelman Taylor berjudul "Kehidupan Sosial di Batavia: Orang Eropa dan Eurasia di Hindia Timur", tradisi seserahan dikatakan sudah muncul sejak masa VOC.

Kala itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen ingin membangun masyarakat kolonial Batavia secara permanen. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerapkan tradisi seserahan.

Pada masa itu, seserahan digunakan sebagai jaminan keamanan bagi gadis yang akan didatangkan ke Hindia Belanda. Isinya berupa seperangkat busana. 

Baca Juga: Ayu Ting Ting Bikin Filosofi Bunga Anggrek Viral, Apa Itu?

Seserahan kemudian berkembang menjadi tradisi di berbagai wilayah Nusantara. Penerapannya berbeda-beda, tetapi tujuan seserahan pada dasarnya merupakan simbolik tanda ikatan untuk kedua calon pengantin.

Di kalangan masyarakat Betawi, barang-barang seserahan berupa uang, makanan, bahan mentah, hingga perlengkapan perempuan dan keperluan rumah tangga. Ada juga mahar, sirih nanas, roti buaya, peti shie, jung kekudang, pesalin, hingga pelangkah.

Sementara itu, seserahan dalam adat Jawa juga disebut peningset atau pengikat. Seserahan dalam tradisi masyarakat Jawa biasanya juga berupa peralatan kebutuhan mempelai perempuan hingga rumah tangga.

Baca Juga: Bridesmaid Andalan, 4 Zodiak Ini Kelihatan Paling Repot di Hari Pernikahan

Ada pula aneka jajanan pasar serta jenang atau wajik. Makan yang bertekstur lengket tersebut menjadi simbol dan harapan supaya hubungan pernikahan kedua mempelai selalu lengket dan manis.

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI