Popularitas Kencan Online Semakin Menurun, Ini 5 Penyebabnya

Hasil survei menyebutkan bahwa hanya 12% jomblo yang menggunakan aplikasi kencan online setiap hari.

By: Rima Sekarani Imamun Nissa icon Rabu, 10 Juli 2024 icon 11:15 WIB
Popularitas Kencan Online Semakin Menurun, Ini 5 Penyebabnya

Ilustrasi Kencan Online (Pexels/cottonbro)

Beberapa tahun yang lalu, tren kencan online meningkat popularitasnya. Banyak orang bertemu jodoh idaman dari interaksi di ruang digital, bahkan sampai berujung ke pelaminan. Namun, kondisinya sudah berbeda sekarang.

Angka pernikahan di Indonesia telah mengalami penurunan secara signifikan (54%) selama satu dekade terakhir. Menurut data tahun 2023 dari BPS (Badan Pusat Statistik), 68,29% anak muda Indonesia belum menikah.

Di dunia modern, kencan dan romansa adalah sesuatu yang sangat dinamis. Lanskap kencan selalu berubah. Romansa digital telah mengubah cara individu bertemu secara substansial, dengan banyaknya platform dan aplikasi online yang mempermudah hubungan dengan satu kali swipe.

Baca Juga: Jomblo Rawan Alami Kesepian hingga Picu Kematian, Solusinya Apa?

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, popularitas perjodohan digital ini telah menurun. Penurunan ini membuat orang lebih sulit untuk menemukan pasangan yang berarti. Dengan demikian, hal ini berkontribusi pada penurunan tingkat pernikahan di Indonesia.

Lunch Actually telah menyaksikan transformasi lanskap kencan dari kencan dengan cara tradisional-tatap muka, ke dunia kencan digital saat ini. Menurut hasil survei yang dilakukan biro jodoh ini, temuan baru di 2024 menyatakan bahwa popularitas budaya swipe telah menurun secara bertahap.

Survei menemukan fakta bahwa hanya 12% jomblo yang menggunakan aplikasi kencan setiap hari, sementara 42% lainnya tidak menggunakan aplikasi kencan sama sekali. Sayangnya, 48% jomblo tidak bertemu dengan siapa pun di aplikasi kencan pada tahun 2023, meskipun 72% dari mereka secara aktif mencoba berkencan atau mencoba untuk bertemu dengan orang baru sepanjang tahun.

Baca Juga: 4 Zodiak Ini Lebih Suka Jomblo, Nggak Usah Repot-Repot Bantu Cari Jodoh

Violet Lim, CEO dan Co-Founder dari Lunch Actually Group, mengatakan bahwa ada beberapa dampak yang disebabkan oleh budaya swipe ini terhadap para jomblo di Indonesia.

"Tahun ini, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kami telah mengamati dampak yang berbeda di mana kenyamanan dalam menggunakan aplikasi kencan telah meningkatkan ekspektasi akan koneksi yang instan, sedangkan keinginan untuk mendapatkan koneksi mendalam dan hubungan yang nyata, semakin besar," ujarnya, dikutip dari siaran pers yang diterima Dewiku.com, Rabu (10/7/2024).

Hasil survei tentang pergeseran tren dunia kencan digital. (Dok.istimewa)
Hasil survei tentang pergeseran tren dunia kencan digital. (Dok.istimewa)

Para jomblo di Indonesia (72%) mulai menyadari bahwa komunikasi dan hubungan emosional merupakan aspek sangat penting yang perlu diprioritaskan agar suatu hubungan dapat bertahan dalam jangka panjang. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, referensi yang mendasar lebih penting bagi para jomblo, seperti bentuk tubuh pasangan mereka untuk pria (43%) dan jumlah pendapatan untuk wanita (62%). Saat ini, para jomblo lebih memilih komunikasi dan hubungan emosional (74%) dibandingkan dengan ketertarikan fisik (24%).

Baca Juga: Punya Teman Jomblo? Ini 6 Cara Terbaik untuk Membahagiakan Mereka

Violet mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan kelelahan dalam nge-swipe di Indonesia. Setidaknya ada lima hal yang memengaruhi, yakni paradoks dalam memilih, kelelahan berkencan, masalah kepercayaan dan keaslian profil, perkara privasi, dan tujuan jangka panjang dari setiap hubungan yang coba dijalin.

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI