Fashion

Jogja Fashion Week 2018 dan Busana Nyentrik dalam Industri Fesyen

Desain busana yang ekspresif tapi tetap ready to wear.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Kintan Sekarwangi

Launching dan Press Conference JFW 2018. (Dewiku.com/Yasinta Rahmawati)
Launching dan Press Conference JFW 2018. (Dewiku.com/Yasinta Rahmawati)

Dewiku.com - Jogja Fashion Week (JFW) 2018 siap dilaksanakan pada 20-25 November 2018 di Hartono Mall, Yogyakarta. Sekitar 95 desainer dari seluruh Indonesia bakal berpartisipasi memeriahkan pagelaran fesyen terbesar di Yogyakarta tersebut.

''JFW tahun ini desain fesyen nyentriknya tetap fokus ke ready to wear collection, busana siap pakai. Bukan busana nyentrik yang tak bisa dipakai atau tidak lazim, yang hanya untuk dipertontonkan atau dishowkan,'' ujar Phillip Iswardono, anggota Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Yogyakarta, saat ditemui DewiKu, akhir Oktober kemarin.

Phillip mengungkapkan, dia dan desainer lainnya akan menampilkan karya menggunakan material khas nusantara seperti batik, sarong, tenun. Namun, semuanya disajikan dalam siluet yang lebih modern dan ready to wear.

Menurut Phillip, selama ini masih banyak yang salah persepsi dan mengira bahwa busana gala bukan busana siap pakai. Padahal busana yang nyentrik sedemikian rupa pun sebenarnya tetap bisa dikategorikan dalam busana siap pakai, asalkan memenuhi konsep koleksi ready to wear secara umum.

''Walaupun baju pengantin, itu tetap dikatakan ready to wear. Kebaya yang ekornya 10 meter tetap bisa dibisa masuk kategori ready to wear karena busana tersebut siap pakai, bisa diproduksi banyak, bisa diproduksi massal, bisa dipasarkan ke departement store, dan dilipat gandakan menjadi ukuran S, M, L, XL,'' kata dia menerangkan.

Phillip Iswardono adalah salah satu desainer akan bakal turut memamerkan karyawanya dalam Jogja Fashion Week. Fashion show tunggalnya dijadwalkan terselenggara pada Jumat (23/11/2018) besok.

Jogja Fashion Week 2018. (Instagram/@jogjafashionweek.official)
Jogja Fashion Week 2018. (Instagram/@jogjafashionweek.official)

Orientasi Bisnis

JFW 2018 memilih tema Perspectrum. Afif Syakur selaku Project Director JFW 2018 menjelaskan, Perspectum merupakan gabungan dari tiga hal, yakni perspective, spectaculer dan spectrum.

Tema ini dipilih lantaran JFW 2018 ingin memberikan inspirasi keberanian dan kebaruan untuk mengeksplorasi kekayaan wastra nusantara dengan konsep futuristik dan spektakuler.

Tahun ini, JFW 2018 memang lebih memberikan kebebasan kepada para desainer untuk mengeksplorasi karyanya tapi dengan tetap mengedepankan kekuatan etnik khas nusantara.

"Kami ingin mengubah paradigma bahwa kedaerahan dianggap sesuatu yang kolot dan tradisional, tapi dengan gubahan atau ekspresi kita nantinya mampu go nasional atau international," ujar Afif Syakur, beberapa waktu lalu.

Dokumentasi Jogja Fashion Week 2016. (Instagram/@jogjafashionweek.official)
Dokumentasi Jogja Fashion Week 2016. (Instagram/@jogjafashionweek.official)

Sementara itu, Phillip Iswardono berharap Jogja Fashion Week ke depannya bisa menjadi event yang berorientasi bisnis.

''Sayang kalau kita sudah mengadakan event seperti ini tetapi tidak ada tindak lanjut dari sisi bisnisnya. Bagaimanapun juga pasti fokusnya adalah peningkatan ekonomi dan bisnis,'' ungkap Phillip.

Philiip ada program tindak lanjut, khususnya dari pemerintah. Dia berharap semangat untuk mengangkat potensi industri fesyen tidak hanya membawa ketika JFW 2018 berlangsung.

''Ada program khusus untuk bisnisnya. Jadi nanti setelah Jogja Fashion Week, ada fashion show di luar Jogja atau luar Indonesia, bahkan pameran. Itu yang kita utamakan,'' kata dia.

Berita Terkait

Berita Terkini