Ragam
Ulang Tahun Paling Berwarna Sri Mulyani: Dari 63 Karangan Bunga Sindiran sampai Rumah Dijarah
Sri Mulyani ulang tahun ke-63 dengan kado tak biasa: papan bunga sindiran dari dosen ASN hingga rumahnya di Bintaro dijarah massa terorganisir.
Vania Rossa | Estika Kusumaningtyas

Dewiku.com - Tanggal 26 Agustus 2025 seharusnya jadi hari istimewa bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Genap berusia 63 tahun, biasanya orang merayakan dengan pesta sederhana, ucapan manis, atau kue ulang tahun.
Namun, ulang tahun Sri Mulyani kali ini benar-benar berbeda. Alih-alih kado atau doa, ia justru menerima “hadiah” yang rasanya sulit dilupakan: mulai dari 63 papan bunga penuh sindiran di kantor, hingga rumah pribadinya di Bintaro dijarah massa hanya lima hari kemudian.
63 Karangan Bunga: Antara Selamat Ulang Tahun dan Kritik Pedas

Semua bermula di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, di mana suasana ulang tahun Sri Mulyani berubah jadi ajang protes. Aliansi Dosen Akademik dan Keavokasian Seluruh Indonesia (ADAKSI) mengirim 63 papan bunga, sesuai dengan usianya. Tapi isi tulisannya jauh dari sekadar “Happy Birthday.”
Tulisan di papan bunga justru penuh sindiran, menyinggung kebijakan pemerintah terkait dosen ASN. Beberapa bahkan langsung menyentil pernyataan kontroversial soal dosen dan guru sebagai “beban negara.”
“Ultahmu dirayakan, hak dosen dilupakan. Ingat tukin dosen bukan beban tapi utang,” bunyi salah satunya.
Ada pula pesan, “Selamat ulang tahun Bu Sri Mulyani, semoga panjang nalar & sehat nurani untuk hentikan kapitalisasi pendidikan tinggi.”
Koordinator aksi, Rachmawaty, menegaskan bahwa langkah ini bukan bermaksud menjatuhkan nama baik, melainkan protes moral. Para dosen ingin menunjukkan keresahan dengan cara yang lebih elegan ketimbang turun ke jalan.
Awalnya papan bunga itu akan dipasang di luar pagar gedung, supaya bisa dilihat publik. Namun, pihak Kemenkeu meminta agar dipindahkan ke dalam area gedung demi alasan kondusivitas. Meski sempat diperdebatkan, permintaan itu akhirnya diikuti.
Uniknya, jumlah karangan bunga tak berhenti di angka 63. Kiriman susulan berdatangan dari berbagai daerah hingga jumlahnya mendekati 100. Dari sekadar simbol usia, protes ini berubah jadi gerakan nasional para dosen ASN yang merasa hak-haknya diabaikan.
Baca Juga
Rumah Tangga Harmonis Versi Ayudia Bing Slamet: Ngalah, Nggak Semua Harus Dilawan
Pernah Tolak Tawaran Jadi Politisi, Alasan Cinta Laura Ternyata Relate Sama Kondisi Sekarang
Kompor Diumpetin, Arya Khan Cegah Pinkan Mambo Launching Produk Baru: Alasan Ini!
Bukan Kalah Lawan Thanos, Ironman Rp 400 Juta Milik Sahroni Justru Ambruk Dipreteli Warga
Dulu Sahabat, Sekarang Beban? Yuk Kenali Sinyalnya Biar Nggak Kehabisan Energi
Bongkar Skandal ART, Chelsea Olivia Tulis Curhatan Panas di Medsos
Lima Hari Berselang: Rumah Sri Mulyani Dijarah
Belum reda hiruk pikuk papan bunga, kabar mengejutkan datang di penghujung Agustus. Pada Minggu dini hari, 31 Agustus 2025, rumah pribadi Sri Mulyani di Jalan Mandar, Bintaro, Tangerang Selatan, digeruduk massa.
Ratusan orang masuk, merusak, bahkan menjarah isi rumah Menteri Keuangan. Rekaman yang beredar di TikTok dan Instagram memperlihatkan orang-orang membawa keluar barang-barang dari dalam rumah sekitar pukul 01.40 WIB.
Dan ini bukan satu-satunya kasus. Gelombang penjarahan juga menimpa rumah beberapa tokoh publik lain, dari Ahmad Sahroni, Uya Kuya, hingga Nafa Urbach. Menariknya, semua berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam, terkesan sistematis dan “tertarget.”
Melansir dari Suara.com, disebutkan bahwa penjarahan itu “tertuju pada satu titik tujuan tanpa menghiraukan lingkungan sekitar.”
Artinya, rumah-rumah pejabat tertentu saja yang dibidik, bahkan di kawasan elite sekalipun.
Aspirasi Dosen vs Penumpang Gelap
Kalau aksi karangan bunga masih bisa disebut protes moral—nyindir dengan cara yang elegan—maka penjarahan jelas berada di level lain. Dari pola dan sasaran, kuat dugaan ini bukan bagian dari aspirasi dosen atau protes pendidikan, melainkan gerakan terorganisir dengan agenda lain.
Dengan kata lain, ada pihak-pihak yang menunggangi momentum keresahan masyarakat untuk melancarkan aksi kriminal. Aspirasi dosen ASN yang tadinya ingin didengar jadi seolah tercoreng, karena aksi susulan justru merusak dan menimbulkan ketakutan.
Ulang Tahun yang Tak Akan Terlupa
Maka lengkaplah “kado ulang tahun” Sri Mulyani tahun ini. Bukan sekadar doa dan pesta, melainkan sindiran dalam bentuk papan bunga dan penjarahan rumah pribadi. Sebuah rangkaian yang membuat usia 63 tahun terasa begitu pahit dan ironis.
Kalau biasanya orang menutup hari ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue, Sri Mulyani menutupnya dengan kritik pedas dari para dosen dan kabar rumah yang porak-poranda.
Ulang tahun ini bukan hanya berkesan, tapi bisa jadi catatan sejarah: hari jadi yang berubah jadi hari evaluasi besar-besaran, baik bagi dirinya maupun sistem yang ia jalankan.