Relationship

Kehadiran Pasangan Mampu Mengurangi Rasa Sakit, Ini Buktinya

Pasangan bisa menjadi "obat".

Rima Sekarani Imamun Nissa | Yasinta Rahmawati

llustrasi pasangan berciuman. (Unsplash/Juliette F)
llustrasi pasangan berciuman. (Unsplash/Juliette F)

Dewiku.com - Sebuah riset terbaru dari Eropa mengungkapkan kehadiran pasangan ternyata bisa punya dampak yang lebih besar, yaitu mengurangi rasa sakit fisik, bahkan tanpa kontak verbal maupun fisik.

Dilansir dari Medical Express, para peneliti di Universitas Ilmu Kesehatan, Informatika dan Teknologi Medis (UMIT, Hall, Austria) dan Universitas Kepulauan Balearic (Palma de Mallorca, Spanyol) sudah mengkonfirmasi efek analgesik dari dukungan sosial.

Penelitian berjudul "Empati Disposisional Dikaitkan dengan Pengurangan Rasa Sakit Eksperimental selama Penyediaan Dukungan Sosial oleh Mitra Romantis" itu diterbitkan dalam Scandinavian Journal of Pain baru-baru ini.

Para peneliti menilai sensitivitas terhadap tekanan nyeri pada sebanyak 48 pasangan heteroseksual.

Mereka mempelajari sensitivitas terkait rasa sakit ketika sendiri dan saat pasangan hadir meski secara pasif, yakni tidak mengajak bicara maupun melakukan kontak fisik.

Pasangan kekasih berpelukan. (Unsplash/Niver Vega)
Pasangan kekasih berpelukan. (Unsplash/Niver Vega)

Hasilnya menunjukkan bahwa saat pasangan hadir, toleransi partisipan terhadap rasa sakit cenderung lebih tinggi. Hal ini berlaku baik bagi pria maupun wanita.

Selain itu, rasio rasa sakit yang mereka rasakan juga menurun, dibandingkan saat pasangan tidak hadir.

Empati pasangan berhubungan positif dengan toleransi nyeri serta berbanding terbalik dengan pengalaman nyeri sensoris.

Ketergantungan sama pacar ternyata tidak baik. (Shutterstock)
Pasangan kekasih. (Shutterstock)

"Berulang kali, berbicara dan menyentuh telah terbukti mengurangi rasa sakit, tapi penelitian kami menunjukkan bahwa bahkan kehadiran pasif dari pasangan dapat menguranginya dan bahwa empati pasangan bisa melindungi tekanan afektif selama paparan rasa sakit," ungkap Profesor Stefan Duschek dari UMIT, saah satu penulis penelitian.

Berita Terkait

Berita Terkini