Relationship

Ingin Bercerai? 7 Tips Melepaskan Diri dari Pernikahan Tidak Sehat

Pernikahan tidak sehat bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Amertiya Saraswati

Ilustrasi pasangan bertengkar. (Shutterstock)
Ilustrasi pasangan bertengkar. (Shutterstock)

Dewiku.com - Tak semua pernikahan bisa berakhir bahagia. Bahkan, pasangan yang mulanya saling mencintai pun dapat berubah seolah asing satu sama lain setelah menikah.

Demi mendapatkan kehidupan pernikahan bahagia, pasangan harus bisa berkomunikasi dan bekerja sama. Namun, apa jadinya kalau pasanganmu berubah toxic?

Jika kamu terjebak dengan pasangan yang melakukan kekerasan, hobi selingkuh, senang mengontrol, atau punya kepribadian narsisistik, wajar jika perceraian terdengar seperti opsi terbaik.

Terlebih apabila kondisi fisik dan mentalmu sudah terancam, ada baiknya kamu mulai memikirkan langkah-langkah perpisahan.

Melansir Your Tango, berikut 7 hal yang bisa kamu lakukan untuk melepaskan diri dari pernikahan dan hubungan tidak sehat.

Ilustrasi memberi dukungan, curhat. (Shutterstock)
Ilustrasi memberi dukungan, curhat. (Shutterstock)

1. Beritahu orang lain

Kalau pasanganmu sering melakukan kekerasan, jangan ragu untuk memberitahu orang lain yang bisa dipercaya.

Bagaimanapun, proses perpisahan merupakan sesuatu yang menyakitkan. Oleh karena itu, carilah seseorang yang bisa memberimu dukungan.

Pastikan pula mereka mempunyai nomor telepon dan informasi penting yang berhubungan denganmu. Langkah ini penting untuk melindungi dirimu dari pasangan yang bersikap kasar.

2. Buat jaring pelindung

Selain memikirkan perpisahan, kamu mungkin cemas dengan masalah keuangan. Hal ini terutama berlaku jika kalian sudah punya anak.

Kalau kamu tak punya pekerjaan, cobalah mencari pekerjaan. Selain itu, berkonsultasilah dengan ahli keuangan mengenai pembagian harta pasca perceraian. Jadi, kamu tidak perlu khawatir soal uang setelah berpisah dari si dia.

Ilustrasi proses seleksi pekerjaan, interview. (Shutterstock)
Ilustrasi proses seleksi pekerjaan, interview. (Shutterstock)

3. Mencari pekerjaan

Seperti disebutkan sebelumnya, mencari pekerjaan penting supaya kamu bisa mulai hidup mandiri. Jika bingung, kamu bisa mulai dengan pekerjaan paruh waktu. Usahakan untuk terbiasa hidup independen.

4. Cari tempat tinggal baru

Perceraian bisa menjadi proses yang menguras tenaga dan emosi. Mayoritas orang juga tidak mau tinggal seatap dengan pasangan ketika proses perceraian berlangsung.

Tanyakan pada teman atau keluarga, apakah mereka bersedia menampung dirimu untuk sementara? Pikirkan juga bagaimana kalau kamu sudah punya anak.

Ilustrasi (Foto: shutterstock)
Ilustrasi (Foto: shutterstock)

5. Segera cari pengacara

Kalau kamu sudah lama terjebak dalam pernikahan tidak sehat, wajar jika masalah di antara kalian semakin menumpuk. Untuk itu, carilah pengacara yang dapat membantu.

Pengacara yang baik bakal bersedia membantu dalam hal keuangan, hak asuh anak, hingga kapan waktu yang tepat untuk bercerai.

6. Berhenti berkomunikasi dengan pasangan

Kalau kamu dan pasangan sudah memiliki anak, mungkin kalian harus tetap berkomunikasi. Namun, jangan bicara soal hal lain di luar anak.

Untuk jaga-jaga, rekam dan simpan semua bentuk percakapan. Kamu juga bisa menyimpan jurnal. Sebisa mungkin, hindari pertengkaran atau argumen yang bisa membuat kamu berubah pikiran.

Ilustrasi. (Shutterstock)
Ilustrasi. (Shutterstock)

7. Cari bantuan profesional

Selain meminta bantuan ahli keuangan dan pengacara, kamu juga dapat menemui terapis untuk membantumu secara emosional.

Jangan keras kepala dan menghadapi perpisahan ini sendirian. Sebisa mungkin, carilah bantuan dari profesional yang bisa berempati dengan keadaaanmu.

Berita Terkait

Berita Terkini