Dukung UMKM, Lembaga Keuangan Perlu Hadirkan Fasilitas Pinjaman Terjangkau

CLIK siap bukung lembaga keuangan menghadirkan fasilitas pinjaman yang terjangkau.

By: Rima Sekarani Imamun Nissa icon Rabu, 17 April 2024 icon 19:00 WIB
Dukung UMKM, Lembaga Keuangan Perlu Hadirkan Fasilitas Pinjaman Terjangkau

Ilustrasi perempuan menggunakan smartwatch (Pexels/Marek Levak)

Laporan terbaru Bank Indonesia (BI) tentang kredit nasional per Maret 2024 mengungkapkan adanya pertumbuhan kredit pada sektor perbankan sebesar 11,28% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 7.047 triliun. Di sisi lain, penyaluran kredit pada sektor UMKM tumbuh sebesar 8,85% secara tahunan (YoY).

Pertumbuhan kredit untuk UMKM ini berkaitan dengan adanya kredit murah dan mudah diakses bagi pelaku usaha. Pertumbuhan ini juga sejalan dengan inisiatif pemerintah mempertahankan suku bunga fasilitas kredit di angka 6,75%.

Dalam keterangan resmi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa meskipun laju pertumbuhan kredit terlihat positif, dengan semakin banyaknya lembaga keuangan non-bank berkompetisi menyalurkan pinjaman untuk masyarakat, diperlukan strategi khusus guna memperkuat peranan bank dalam menyalurkan kredit bagi UMKM dan individual yang berbentuk kredit multiguna.

Baca Juga: 5 Tren Belanja Ramadan dan Lebaran, Banjir Promo dan Diskon

Ilustrasi uang (Pixabay/Iqbal Nuril Anwar)
Ilustrasi uang (Pixabay/Iqbal Nuril Anwar)

PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) sebagai salah satu biro kredit swasta di Indonesia melihat inisiatif pemerintah tersebut sebagai langkah strategis guna memicu penyaluran pinjaman dengan menyarankan kepada para Pemberi dana/Kreditur untuk mulai menyesuaikan strategi penyaluran pinjaman mereka.

"Ini adalah saat yang tepat bagi industri untuk bergeser kembali dari konsep inklusi keuangan ke pendalaman keuangan (financial deepening). Pemberi dana/Kreditur harus bisa menaikkan besaran pinjaman (ticket size) maupun tenor pinjaman yang menyasar pengeluaran konsumtif yang lebih panjang dan pinjaman produktif pada jangka menengah/panjang dengan tingkat suku bunga primer," ujar Direktur Utama CLIK Leonardo Lapalorcia, dalam siaran pers yang diterima Dewiku.com, belum lama ini.

Menurut Leonardo, pemberian pinjaman pada sektor rumah tangga dan produktif tertahan dari laju pertumbuhan kredit selama empat tahun terakhir.

Baca Juga: Targetkan 10 Ribu UMKM, Begini Cara Daftar Program AKI 2024

"Sejak pandemi, pemberi pinjaman memperlambat aliran pinjaman secara signifikan. Kami juga melihat adanya pertumbuhan besar dari sektor pinjaman online dan Buy Now Pay Later (BNPL). Laju perubahan ini seharusnya berpotensi memberi dampak limpahan (spill-over) yang jauh lebih besar untuk mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dibandingkan dengan kinerja dari pinjaman jangka pendek bernilai kecil yang sangat populer di pasar selama lima tahun terakhir," paparnya.

Menurut Bank Dunia, UMKM terus menghadapi hambatan dalam mengakses kredit, bahkan di Asia Tenggara terdapat rata-rata 60% UMKM mengalami kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan. Kesenjangan pembiayaan untuk UMKM di negara-negara berkembang diperkirakan mencapai sekitar $5 triliun, melampaui tingkat pembiayaan UMKM saat ini sebesar 1,3 kali lipat.

"Sangat penting bagi Bank untuk cermat menilai calon peminjam mereka dengan kecepatan dan akurasi yang sama seperti pemberi pinjaman online serta dapat menawarkan suku bunga lebih rendah dan biaya pendanaan lebih murah. Bank perlu kembali fokus pada pencairan kredit langsung, namun dengan metode penilaian yang lebih canggih guna mengurangi risiko kredit. Langkah selanjutnya adalah membuat kredit yang lebih mudah diakses dengan memanfaatkan likuiditas berlimpah di Bank serta mengaplikasikan praktik terbaik pemberian pinjaman yang mutakhir untuk memacu pertumbuhan PDB Negara," papar Leonardo menerangkan.

Belum lama ini, diluncurkan CLIK Spectrum. Ini adalah produk skor kredit inovatif yang menggabungkan informasi perilaku kredit dengan skor data telekomunikasi dan data alternatif lainnya yang mendukung. Bank dapat mengkualifikasi ulang dan memindahkan sebagian besar calon debiturnya dari kelompok risiko menengah ke kelompok risiko rendah. Hasilnya, peluang persetujuan kredit akan lebih besar.

Chief Commercial Officer CLIK Leony Agnes Marie mengatakan, inovasi pihaknya merupakan komitmen perusahaan untuk mempercepat pertumbuhan dan inklusivitas akses kredit bagi masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Tingkatkan Angka Penjualan saat Ramadan, Ini 5 Tips untuk Pelaku UMKM

"Skor kredit kami akan memberikan perspektif baru terhadap kelayakan kredit. Dengan meningkatkan keuangan digital dan pola konsumsi, lembaga keuangan perlu mengadopsi pendekatan baru dalam mengukur profil calon debitur mereka," ucap dia.

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI