Community
Perempuan Muda Tak Harus Terus Berlari, Pentingnya Jeda untuk Mengenali Diri
Perempuan muda tak harus terus mengejar standar kesuksesan. Mengenali diri, mengambil jeda, dan menyusun strategi dapat membantu menentukan arah hidup serta menjaga kesehatan mental.
Vania Rossa
dewiku.com - Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan tersebut juga tercermin di dunia kerja. Laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org pada 2025 mencatat sekitar 60 persen perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten.
Di tengah berbagai tuntutan tersebut, menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, perempuan muda perlu memiliki ruang untuk mengenali kebutuhan diri, merefleksikan pilihan, dan menentukan langkah secara lebih sadar.
Pesan inilah yang diangkat dalam Puan Bisa Festival 2026 melalui tema “Brave to Step Back: RISE”. Festival ini mengajak perempuan muda memahami bahwa mengambil jeda bukan berarti berhenti bertumbuh, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi arah dan menyusun langkah yang lebih sesuai dengan kebutuhan diri.
Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 2026 menghadirkan rangkaian kegiatan bertema well-being. Dua sesi utama yang dihadirkan adalah talkshow “Not All Growth Looks the Same: Understanding Your Version of Enough” bersama Gina Sinaga, Adult Clinical Psychologist di Indopsycare sekaligus Director of Research and Development, serta workshop “Slow Down to Level Up: Aligning Your Path with RISE” bersama Resti Nur Hilmawati, Clinical Psychologist dan Associate Psychologist di Yayasan Putih.
Melalui kedua sesi tersebut, peserta diajak memahami pertumbuhan personal, menjaga kesejahteraan diri, dan mengambil keputusan yang lebih selaras dengan kebutuhan masing-masing.
Mengenali Kapasitas Diri Tanpa Terjebak Standar Orang Lain
Dalam sesi talkshow “Not All Growth Looks the Same: Understanding Your Version of Enough”, Gina Sinaga membagikan pengalamannya menghadapi berbagai tantangan personal dan profesional sebagai perempuan. Sesi yang dimoderatori oleh Asa, Executive Director IndoRelawan, ini mengajak peserta mengenali kapasitas diri sebelum menentukan langkah.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah analisis SWOT untuk memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan diri. Peserta juga diajak mengenali beragam bentuk kecerdasan (multiple intelligences) agar dapat memahami keunggulan masing-masing.
Gina menekankan bahwa setiap individu memiliki kemampuan dan kelebihan yang berbeda. Karena itu, perempuan tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar kesuksesan orang lain. Mengenali potensi diri juga perlu disertai prinsip dan integritas agar mampu menghadapi stigma serta tekanan sosial.
Dalam memaknai arti cukup, Gina mengajak peserta melakukan refleksi secara berkala dengan melihat perjalanan hidup, pencapaian, dan tujuan ke depan.
“Setiap tahun, usahakan selalu ada momen refleksi sama diri sendiri,” pesannya.
Melalui refleksi tersebut, perempuan diharapkan dapat lebih menghargai proses dan pencapaian yang telah dilalui tanpa terus-menerus merasa kurang atau membandingkan diri dengan orang lain.
Mengambil Jeda Sebelum Menentukan Langkah
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi bersama Resti Nur Hilmawati yang membahas pentingnya mengambil jeda sebelum memasuki workshop utama. Dalam sesi bertajuk “Jeda yang Berdaya” dan dimoderatori oleh Anisa, Chief Financial Officer, Resti menjelaskan bagaimana hustle culture dapat membuat seseorang terus bergerak tanpa memahami tujuan dan makna dari aktivitas yang dijalani.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kesulitan berpikir jernih atau mengalami brain fog, terutama ketika terlalu banyak tuntutan harus dipenuhi sekaligus.
Sebagai alternatif, Resti memperkenalkan konsep intentional pause, yaitu mengambil jeda secara sadar untuk mengevaluasi situasi sebelum menentukan respons atau keputusan. Peserta diajak memperlambat langkah, meninjau kembali tujuan, serta membedakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan logis dan reaksi emosional.
“Untuk mengatasi brain fog, kita harus recharge and check maps,” jelas Resti, Sabtu (10/10).
Pesan tersebut menekankan pentingnya memulihkan energi sekaligus memeriksa kembali arah yang ingin dituju sebelum melanjutkan perjalanan.
Pendekatan ini kemudian diterapkan melalui kerangka RISE, yang terdiri atas Reflect Your Pace, Inclusive Self-Understanding, Strategize Intentionally, dan Evolve Sustainably. Keempat pilar tersebut mengajak peserta mengenali kondisi diri, memahami nilai personal, menyusun strategi pengambilan keputusan, dan membangun kebiasaan yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Langkah Kecil untuk Bertumbuh secara Berkelanjutan
Peserta mempraktikkan pendekatan RISE melalui lembar kerja (worksheet) yang disediakan panitia. Empat peserta berkesempatan membagikan hasil refleksi mereka, yang menunjukkan beragam perspektif meskipun menggunakan panduan yang sama.
Salah satu peserta, Ara, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut membantunya mengenali kebiasaan menunda pekerjaan ketika suasana hatinya menurun. Melalui pilar Evolve Sustainably, ia memperoleh perspektif baru untuk mengelola pekerjaan dengan lebih terarah.
Sementara itu, Caesi membagikan pengalamannya menerapkan micro-habits, seperti menetapkan tenggat waktu pribadi, untuk membantu mengelola rasa takut dan hambatan emosional secara lebih konsisten.
Menanggapi hasil refleksi peserta, Resti menegaskan bahwa setiap individu memiliki latar belakang, kebutuhan, dan proses pertumbuhan yang berbeda. Karena itu, langkah yang sesuai bagi satu orang belum tentu cocok bagi orang lain.
Ia menutup sesi workshop dengan pesan, “Slowing down doesn't mean you're falling behind.”
Mengambil jeda bukan berarti tertinggal, melainkan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami kebutuhan, mengevaluasi pilihan, dan menentukan langkah berikutnya secara lebih sadar.
Penyelenggaraan Puan Bisa Festival 2026 turut didukung oleh Media Mahasiswa Indonesia, Golite, dan The Ban Bakery. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang belajar, refleksi, dan pengembangan diri yang inklusif bagi perempuan muda.
Melalui festival ini, perempuan muda diajak memaknai pertumbuhan bukan sekadar tentang seberapa jauh mereka melangkah, tetapi juga seberapa sadar mereka menentukan arah.
Dini Aulia, Project Manager Puan Bisa Festival 2026 sekaligus Chief of People Officer Puan Bisa, berharap setiap perempuan dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai, prinsip, dan integritas yang diyakininya, bukan semata-mata karena tuntutan atau ekspektasi sosial.
“Berani mengambil jeda bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, dengan memahami diri dan apa yang benar-benar kita butuhkan, kita dapat melangkah kembali dengan lebih sadar dan selaras dengan nilai yang kita pegang,” menjadi pesan yang merangkum semangat “Brave to Step Back: RISE” dalam Puan Bisa Festival 2026.








