Community

Generasi Emas Dimulai dari Rumah, Ini Pentingnya Peran Keluarga Cegah Stunting

Upaya mencegah stunting perlu dimulai dari keluarga melalui pemenuhan gizi, pola hidup sehat, kebersihan lingkungan, serta pemantauan tumbuh kembang anak.

Vania Rossa

Generasi Emas Dimulai dari Rumah, Ini Pentingnya Peran Keluarga Cegah Stunting
Generasi Emas Dimulai dari Rumah, Ini Pentingnya Peran Keluarga Cegah Stunting

dewiku.com - Upaya mencegah stunting tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Kesadaran keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi, menjaga kebersihan lingkungan, serta rutin memantau tumbuh kembang anak menjadi kunci penting untuk memastikan generasi masa depan tumbuh sehat dan optimal.

Semangat inilah yang kembali diusung melalui MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 yang digelar pada 29-30 Agustus 2026 di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Jawa Tengah.

Mengangkat tema “Jaga Generasi Emas, Merdeka Lawan Stunting”, festival yang digagas Bakti Sosial Djarum Foundation dan MilkLife bersama Pemerintah Kabupaten Kudus tersebut memasuki tahun ketiga penyelenggaraan.

Berbeda dari kegiatan kesehatan yang kerap identik dengan suasana formal, festival ini dikemas sebagai ruang edukasi yang ramah keluarga. Masyarakat dapat memperoleh informasi dan layanan kesehatan sekaligus menikmati beragam aktivitas bersama anak.

Sejumlah layanan tersedia selama festival, mulai dari pemeriksaan kehamilan melalui USG, pemantauan tumbuh kembang balita, screening anemia bagi remaja dan calon pengantin, hingga pemeriksaan triple elimination untuk HIV, sifilis, dan hepatitis B.

Masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan dokter umum serta mendapatkan pemeriksaan kesehatan jiwa bersama psikolog klinis.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, mengatakan kolaborasi berbagai pihak dalam program kesehatan keluarga telah memberikan dampak positif terhadap penurunan angka stunting di wilayahnya.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Bakti Sosial Djarum Foundation yang terus mengawal program-program keluarga sehat dengan penurunan stunting sangat signifikan, yang sebelumnya 4,08% menjadi 3,04%. Artinya dengan adanya program ini sejak tahun 2024 dampaknya sangat positif terhadap penurunan angka stunting di Kudus,” katanya.

Menurut Sam’ani, pencapaian tersebut perlu terus dijaga dengan memperkuat edukasi kepada masyarakat. Pemahaman mengenai kesehatan dan lingkungan, kata dia, perlu diberikan sejak dini agar dapat menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia pun menargetkan Kabupaten Kudus dapat mencapai zero stunting pada 2030.

“MilkLife Keluarga Sehat terbukti luar biasa dampaknya. Semoga dengan ada edukasi dan pelayanan seperti ini masyarakat bisa semakin sadar arti kesehatan keluarga. Kami harapkan seluruh pihak bisa meneruskan informasi ini sampai ke tingkat desa maupun RT. Mari kita sukseskan generasi emas, cegah stunting dan semoga di tahun 2030 Kabupaten Kudus zero stunting,” tambahnya.

MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026. (Dok. Ist)
MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026. (Dok. Ist)

Dimulai dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Pencegahan stunting sendiri perlu dilakukan jauh sebelum anak mengalami gangguan pertumbuhan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, M.Si, Med, Sp.A, menekankan pentingnya perhatian keluarga sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Menurutnya, keluarga perlu memastikan kebutuhan nutrisi ibu dan anak terpenuhi sekaligus melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara berkala.

“Sebenarnya standar maksimal stunting yang direkomendasikan oleh WHO adalah di bawah 10%. Kita bersyukur Kabupaten Kudus sudah di angka 3%. Ini suatu prestasi yang luar biasa dan kita harus maksimalkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan penurunan angka tersebut secara bertahap hingga akhirnya mencapai nol persen pada 2030.

“Jadi kita targetnya bagaimana nanti secara bertahap di 2027 mencapai 2%, 2028 sampai 2029 mungkin ya 0,3% atau 0,9%, karena memang pasti masih akan ada (stunting). Tapi kami usahakan bersama nanti bagaimana menembus 0% sesuai target pak Bupati di 2030,” katanya.

Selain asupan gizi, Abdul Hakam mengingatkan bahwa kebersihan dan sanitasi lingkungan tidak boleh diabaikan. Lingkungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan tumbuh kembang anak.

“Bagaimanapun sanitasi juga penting karena kaitannya dengan munculnya penyakit. Kalau itu teratasi, pasti secara maksimal problem stunting turun. Selain itu juga program lain, baik itu imunisasi, tumbuh kembang, serta pemeriksaan 1.000 hari kehidupan juga harus digalakkan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan anemia, terutama pada ibu hamil. Menurutnya, pemenuhan gizi selama kehamilan menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung kesehatan ibu sekaligus pertumbuhan janin.

“Potensi adanya anemia ini cukup berdampak. Edukasi peningkatan gizi terhadap konsumsi daging merah seperti kerbau, kambing, sapi, dan ampela juga tak kalah penting, untuk dikonsumsi tiga sampai lima kali dalam seminggu, terutama untuk ibu hamil,” sambungnya.

Edukasi Kesehatan Dibuat Menyenangkan

Kesadaran keluarga mengenai kesehatan kemudian coba dibangun melalui pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Field Promotion Manager, Danang Adityo Pramandaru, mengatakan Festival Keluarga Sehat dirancang agar edukasi kesehatan tidak terasa membosankan. Karena itu, layanan kesehatan dipadukan dengan berbagai aktivitas dan hiburan yang dapat dinikmati anak maupun orang tua.

“Kami ingin Festival Keluarga Sehat menjadi ruang yang fun, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai kesehatan jasmani, tetapi juga dapat menikmati berbagai hiburan bersama keluarga,” ujarnya.

Menurut Danang, pemenuhan nutrisi dan gizi seimbang merupakan bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

“Di sisi lain, pemenuhan nutrisi dan gizi seimbang juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang, termasuk dengan mengonsumsi susu berkualitas,” tambahnya.

Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto, mengatakan keberlanjutan festival menjadi bentuk komitmen untuk membangun kesadaran kesehatan masyarakat secara konsisten.

Ia menilai penurunan angka stunting di Kudus sejak program Festival Keluarga Sehat dimulai pada 2024 menjadi motivasi untuk memperluas kontribusi.

“Kami ingin Kudus menjadi salah satu kabupaten terbaik dalam penanganan kesehatan dan juga stunting. Maka dari itu kami siap mendukung untuk menjadikan Kudus zero stunting di tahun 2030,” tuturnya.

Achmad menambahkan, edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar.

“Kami mulai membiasakan supaya mereka (orangtua) tahu yang terbaik untuk putra-putrinya. Pada intinya, kami ingin memberi kontribusi positif bagi warga Kudus, karena kami lahir dan besar di Kudus,” katanya.

Orang Tua Dapat Pengetahuan Baru

Manfaat edukasi kesehatan juga dirasakan langsung oleh masyarakat yang datang ke festival.

Salah satunya Lusi Rahmawati, warga Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Ibu dua anak ini menilai layanan yang tersedia memberikan informasi praktis yang dapat diterapkan keluarga di rumah.

Selain mengunjungi booth Hunian Sehat dan layanan tumbuh kembang anak, Lusi juga mengikuti screening anemia. Menurutnya, informasi yang diberikan membuatnya lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan keluarga dari hal-hal sederhana.

“Acaranya bagus dan fasilitas yang disediakan juga sangat memadai. Kita jadi banyak dapat pengetahuan baru soal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengenai gizi dan tumbuh kembang,” ujarnya.

“Tadi juga sempat screening anemia, jadi saya bisa berkonsultasi dengan leluasa dan penyampaian hasil screening-nya juga jelas,” tambah Lusi.

Tak hanya menghadirkan pemeriksaan kesehatan, MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 juga mengajak keluarga belajar melalui aktivitas interaktif.

Ada Jalan Keluarga Sehat – Parade Gizi Hebat, lomba estafet Isi Piringku yang mengajarkan anak memilih makanan sehat, lomba mewarnai, hingga taman eksplorasi untuk memberikan stimulasi sensorik kepada anak.

Suasana festival juga dimeriahkan pertunjukan musik dan wayang humor. Di penghujung acara, masyarakat berkesempatan mengikuti pengundian doorprize utama berupa motor listrik Polytron Fox R 350.

Rangkaian kegiatan ini merupakan kelanjutan program yang telah berjalan sejak 19 Juli hingga 9 Agustus 2026 melalui Aksi Rumah Resik Sehat (SIKAT) dan Belanja Pinter Gizine Bener (BPGB).

Program SIKAT melibatkan 2.311 peserta dari Desa Wonosoco, Desa Gribig, Desa Mejobo, dan Desa Klaling. Sementara BPGB memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara memilih bahan makanan sesuai kebutuhan gizi seimbang.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa perjuangan melawan stunting bukan hanya soal mengatasi masalah ketika sudah terjadi. Lebih jauh, upaya tersebut membutuhkan kebiasaan sehat yang dibangun bersama, mulai dari masa kehamilan, pemenuhan gizi anak, kebersihan rumah, hingga pemantauan tumbuh kembang.

Dengan keluarga yang semakin sadar dan lingkungan yang mendukung, cita-cita mencetak Generasi Emas 2045 yang sehat dan berkualitas pun diharapkan dapat dimulai dari rumah.

×
Zoomed

Berita Terkini