Lifestyle

Selfie Dysmorphia, Fenomena Perempuan Ingin Mirip Filter Instagram

Seperti apa gejala Selfie Dysmorphia?

Rima Sekarani Imamun Nissa

Ilustrasi foto selfie. (Pexels/Lisa Fotios)
Ilustrasi foto selfie. (Pexels/Lisa Fotios)

Dewiku.com - Operasi plastik tampaknya kini sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat dunia. Teknologi bedah yang terus berkembang dan minimal invasif membuat kaum hawa tak lagi takut mengubah bentuk tubuh mereka. Namun, ada lagi tren kecantikan terbaru. Namanya tren selfie dysmorphia, di mana perempuan ingin mengubah wajahnya demi mirip filter Instagram.

Baru-baru ini, Dokter Terry Dubrow dan Paul Nassif di acara bedah kosmetik Botched menyinggung tentang fenomena yang mulai muncul beberapa tahun terakhir ini. Selfie dysmorphia membuat seseorang ingin wajah mereka mirip dengan filter dalam aplikasi seperti Instagram dan FaceTune.

''Melalui media sosial, dan orang-orang mengambil foto diri mereka sendiri, mereka melihat versi diri mereka yang super ideal lewat filter di media sosial. Dulu orang ingin terlihat seperti selebritis tertentu atau memperbaiki benjolan di hidung mereka, sekarang orang ingin terlihat seperti filter,'' kata dia, seperti dilansir dari Newsweek.

Ilustrasi perempuan melakukan swafoto. (Unsplash/Kinga Cichewicz)
Ilustrasi perempuan melakukan swafoto. (Unsplash/Kinga Cichewicz)

Sementara itu, di kalangan masyarakat Amerika, operasi plastik untuk pembesaran payudara ternyata menjadi yang paling banyak dilakukan oleh para kaum hawa.

Hasil ini terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh American Society of Plastic Surgeons (ASPS). Penelitian menyebut operasi pembesaran payudara sudah dilakukan lebih dari 17,7 juta orang pada 2018.

Selanjutnya diikuti oleh prosedur sedot lemak yang dilakukan sebanyak 258.558 kali. Di tempat ketiga menyusul operasi pemancungan hidung yang dilakukan 213.780 kali, kemudian ada operasi kelopak mata sebanyak 206.529 kasus.

Ilustrasi stalking media sosial Instagram mantan. (Unsplash/Erik Lucatero)
Ilustrasi media sosial Instagram. (Unsplash/Erik Lucatero)

Jika ditotal, ahli bedah telah melakukan lebih dari 1,8 juta prosedur invasif sepanjang 2018. Presentase operasi pembesaran payudara naik 4 persen dari tahun sebelumnya dan sedot lemak 5 persen. Namun, jumlah tindakan operasi hidung turun 2 persen, dan operasi kelopak mata turun sebesar 1 persen.

Sayangnya, penelitian ini tidak mengungkap alasan mengapa prosedur pembesaran payudara lebih populer ketimbang yang lain. (Suara.com/Firsta Nodia)

Berita Terkait

Berita Terkini