Ragam

Perempuan Punya Cara Lain Menjaga Bumi, Dimulai dari Memilih Pembalut Ramah Lingkungan

Gaya hidup ramah lingkungan tak hanya soal membawa tumbler atau tote bag. Memilih pembalut yang lebih ramah lingkungan juga bisa menjadi langkah kecil merawat bumi.

Vania Rossa

Perempuan Punya Cara Lain Menjaga Bumi, Dimulai dari Memilih Pembalut Ramah Lingkungan
Perempuan Punya Cara Lain Menjaga Bumi, Dimulai dari Memilih Pembalut Ramah Lingkungan

dewiku.com - Membawa tumbler, menggunakan tas belanja kain, hingga mengurangi plastik sekali pakai kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak perempuan. Namun, ada satu kebiasaan yang sering luput dari perhatian, yakni memilih produk menstruasi yang lebih ramah lingkungan.

Padahal, pembalut merupakan salah satu kebutuhan yang digunakan perempuan hampir setiap bulan selama puluhan tahun. Jika dikalkulasikan, seorang perempuan dapat menggunakan ribuan pembalut sepanjang hidupnya. Karena itu, keputusan memilih produk menstruasi ternyata juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Kesadaran inilah yang mulai dibangun kepada generasi muda. Menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia, lebih dari 2.000 siswi SMP dan SMA di Jakarta mengikuti program edukasi mengenai menstruasi sekaligus pentingnya menjaga lingkungan. Mereka diajak memahami bahwa kebiasaan sederhana saat menstruasi pun dapat menjadi kontribusi nyata bagi bumi.

Tak hanya membahas kesehatan reproduksi, para siswi juga dikenalkan pada konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan bagaimana prinsip tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat memilih produk yang digunakan setiap bulan.

Kesadaran tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai lebih dari 30 juta ton. Angka ini menunjukkan pentingnya perubahan perilaku konsumsi, termasuk dalam memilih produk-produk yang lebih berkelanjutan.

Menariknya, kepedulian terhadap lingkungan juga mulai tumbuh di kalangan remaja. Sebuah riset Unicharm pada 2025 terhadap siswi SMP menunjukkan hampir 30 persen responden bersedia membayar lebih mahal untuk pembalut yang lebih ramah lingkungan. Sementara sekitar 25 persen menjadikan aspek ramah lingkungan sebagai salah satu pertimbangan utama saat membeli pembalut.

Artinya, kini fungsi pembalut tidak lagi sekadar memberikan kenyamanan saat menstruasi. Semakin banyak perempuan yang juga mempertimbangkan dampak produk tersebut terhadap lingkungan.

Melihat perubahan perilaku tersebut, Charm menghadirkan edisi terbatas Charm Extra Maxi Bio Materials Eco Friendly Package. Produk ini menggunakan bio material dari organic cotton, botanical oil, dan tumbuhan tebu pada lapisan yang bersentuhan langsung dengan kulit.

Yang menarik, kemasannya tidak lagi menggunakan plastik, melainkan berbahan dasar kertas sehingga lebih mudah didaur ulang. Desainnya pun dibuat multifungsi sehingga dapat digunakan kembali sebagai tempat menyimpan pembalut atau aksesori kecil, bukan langsung dibuang setelah produk habis.

Tak hanya itu, sebagian material karton pengiriman juga memanfaatkan Empty Fruit Bunch (EFB) atau limbah tandan kosong kelapa sawit sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan bahan baku baru.

Brand Ambassador Charm, Syifa Hadju, mengaku mulai membiasakan diri menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan melalui langkah-langkah sederhana.

"Di sela-sela kesibukan yang padat, aku selalu usahakan bawa tumbler dan tote bag sendiri buat mengurangi plastik sekali pakai. Selain itu, aku juga mulai mengurangi penggunaan kertas dengan beralih ke skrip digital, misalnya menggunakan tablet daripada harus mencetak dokumen. Untuk urusan pemilihan produk, aku juga sebisa mungkin memilih yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.

Menurut Presiden Direktur PT Uni-Charm Indonesia Tbk, Yasutaka Nishioka, membangun kesadaran lingkungan sebaiknya dimulai sejak usia muda karena kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari akan membentuk perilaku jangka panjang.

Pada akhirnya, gaya hidup berkelanjutan memang tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Memilih produk yang lebih ramah lingkungan, membawa botol minum sendiri, atau menggunakan kembali kemasan yang masih layak pakai merupakan langkah sederhana yang jika dilakukan bersama-sama dapat memberi dampak positif bagi lingkungan.

Sebab, menjaga bumi bukan hanya soal mengurangi sampah plastik, tetapi juga tentang lebih bijak dalam setiap pilihan konsumsi—termasuk saat memilih pembalut yang digunakan setiap bulan.

×
Zoomed

Berita Terkini