Relationship

Aku Dijual Sebagai Budak Seks Sejak 19 Tahun, Kengerian Ini Terngiang

Kisah nelangsa seorang perempuan yang dijadikan budak seks.

Rendy Adrikni Sadikin

ILUSTRASI budak seks. [Shutterstock]
ILUSTRASI budak seks. [Shutterstock]

Dewiku.com - Nelangsa hidup dijalani Sarah Forsyth. Hal ini berawal ketika dia datang ke Amsterdam ketika berusia 19 tahun dengan iming-iming menjadi pengasuh anak-anak.

Tapi, pil pahit terpaksa ditelannya. Alih-alih menjadi pengasuh, dia malah diculik dengan todongan senjata. Parahnya, dia dijual sebagai budak pelampiasan syahwat.

Dalam bukunya 'Slave Girl', Sarah Forsyth mengisahkan kengerian yang dialaminya. Dia pun terpaksa menguak sisi gelap dari distrik merah di Amsterdam, Belanda.

******************************************************

Aku dipaksa untuk tidur dengan lebih dari 20 laki-laki, hanya sekadar mengisi kantung uang mucikari jahat.

Setiap malam, ketika memejamkan mata, memori pahit di distrik merak itu muncul. Bermain di anganku bagaikan sebuah adegan dalam film horor.

Wajah yang kulihat selalu sama: seorang gadis asal Thailand. Dia dijual seperti aku, tapi tidak memiliki cukup uang untuk penculiknya.

Sebagai hukuman, gadis itu dibawa ke sebuah gudang kumuh di pinggiran kota. Di sana, dia ditembak mati. Penembakan itu direkam. Aku dipaksa untuk melihat.

Lalu, bebunyian keras terdengar. Tubuh gadis tersebut terhempas di lantai, tepat di sebelahku. Aku ingin berteriak. Meski mulutku terbuka, tenggorokanku dipenuhi teror. Aku tidak bisa berkata-kata.

Aku kemudian melihat sinar kecil berwarna merah di kamera. Terdengar bunyi pita rekaman berputar. Aku sadari bahwa pembunuhan itu direkam.

Kerap kali, aku melihatnya dalam mimpi. Mimpi buruk. Terngiang, kepanikan di sorot mata gadis tersebut ketika laki-laki itu mengangkat pistor dan menembak.

Bahkan, aku masih mengingat dengan jelas bunyi magazen peluru kosong yang terjatuh di lantai. Suaranya menggema ke seisi gudang tua tersebut.

Russian Roulette

Sarah, yang kini berusia 42 tahun, merupakan satu di antara ribuan wanita inggris yang menjadi korban perdagangan budak seks saban harinya.

Dan, Sarah merupakan salah satu yang pertama membongkar kekejaman praktik perdagangan budak seks tersebut ke dunia.

Kesaksian mengerikan itu dibukukan dalam sebuah memoir berjudul 'Slave Girl' alias 'Gadis Budak'.

Pembunuhan gadis asal Thailand tersebut merupakan satu dari sekian banyak yang terpatri dalam memori Sarah. Peristiwa kelam itu terjadi di akhir dekade 1990-an.

******************************************************

Aku ingat melihat beberapa kepala yang terputus, tergeletak hanya beberapa meter dari tubuh. Mereka adalah saingan mucikari yang dibunuh setelah konflik pahit tentang kontrol para budak seks tersebut.

Di beberapa malam, para laki-laki memaksa para budak seks untuk bermain Russian Roulette. Terlihat kengerian di wajah para pelacur ketika menarik pelatuk pistol.

Para laki-laki tersebut menganggap teror di wajah pelacur tersebut tak lebih hanya sebagai lelucon yang bisa membuat mereka terkekeh.

Ketika aku dipaksa untuk bermain, aku memilih untuk berdoa agar cepat mati ketimbang berharap keadilan atas apa yang aku alami ini.

Saban kali menodongkan pistol ke kepalaku dan tidak meledak, aku merasa dicurangi. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku.

"Mengapa pistol itu tidak menembak dan melesakkan timah panasnya yang kecil ke pelipisku? Mengapa aku tidak mati saja secara cepat?"

Awal nelangsa

Aku berkunjung ke Amsterdam di pertengahan 1990-an setelah membalas sebuah iklan di surat kabar yang mencari pengasuh anak untuk bekerja di kota tersebut.

Kenyataannya, iklan itu hanya kedok. Iklan itu dipasang oleh seorang penjahat Inggris bernama John Reece. Aku bertemu dia di Bandara Schipol.

Dia mengambil paksa pasporku dan dalam hitungan menit, dia menaruh moncong pistol di dalam mulutku. Aku tak berdaya.

Sejatinya, aku sudah memiliki firasat buruk ketika berjalan dari pesawat dan menuju terminal kedatangan. Ada yang tidak beres. Suara hatiku menggumamkan 'jangan lakukan ini' secara terus menerus.

John Reece mengatakan kepada, aku akan menjadi mayat jika melakukan gerakan yang fatal atau salah.

Dalam kurun beberapa minggu, John memaksaku bekerja di sebuah rumah bordil. Setelah pertama kali, aku mendadak kejang tak terkontrol.

Seluruh tubuhku gemetaran. Aku merasa jatuh dari dunia yang aku jejaki selama ini dan masuk ke jurang kehampaan yang gelap nan tak berujung.

Aku bukan lagi Sarah Forsyth yang kukenal. Sarah yang dulu, sudah mati dan hilang, digantikan dengan Sarah baru: Sarah sang pelacur.

Pindah tangan mucikari

Aku bertahan hidup dengan segenggam coklat M&M's per hari untuk makan dan berbagi tangis dengan gadis lainnya karena kelaparan.

Sebulan berselang, aku dijual Reece ke seorang mucikari Yugoslavia yang memelihara banyak anjing dan memaksaku melayani 18 laki-laki per malam.

Satu-satunya pelipur sakitku adalah kokain. Ini membuat diriku kecanduan hingga mesti menghabiskan uang ratusan poundsterling per hari. Buntutnya, aku semakin bergantung kepada mucikari itu.

Kabur dan bertemu ibu

Polisi Belanda yang menyelidiki komplotan itu, mendekatiku beberapa kali. Hingga akhirnya aku berhasil kabur pada tahun 1997. Beberapa penculikku pun ditahan ketika itu.

Sebelum bertemu ibuku di Gateshead, Tyneside, aku disembunyikan di Belgia.

Saat bertemu, aku melihat ibuku berdiri di sana dengan tangan di atas dan tatapan penuh kasih. Kemudian, dia memeluk diriku. Untuk pertama kali, aku bisa mengingat rasanya aman dan bahagia.

Aku tak peduli apa yang akan terjadi nanti. Aku hanya ingin ibuku dan tinggal seperti itu untuk selamanya. Kami berdua menangis, dan terus menangis.

Kesaksian Sarah

Sarah dengan berani memberikan bukti melawan penyiksanya. Di pengadilan, lima orang mengaku bersalah karena menganiaya, dan lainnya menjual gadis-gadis.

Sarah juga memberikan bukti untuk melawan penculiknya, John Reece, ketika disidang di Pengadilan Leicester.

Pada 1997, Reece dinyatakan bersalah untuk kasus prostitusi, tapi dia hanya dihukum dua tahun penjara.

Sarah berjuang untuk mengais kehidupannya yang hancur berkeping-keping dan melawan ketergantungan obat selama satu dekade.

******************************************************

Aku berjuang untuk melupakan kenangan pahit itu. Aku beruntung, tidak seperti para gadis yang dipaksa untuk tinggal dan bekerja hingga meninggal perlahan karena ketergantungan obat.

Aku kabur, tidak seperti ribuan perempuan yang dipaksa menjadi budak seks setiap hari. Mereka diperjualbelikan oleh laki-laki bengis hingga disiksa terus menerus.

Berita Terkait

Berita Terkini