Ragam
Meisya Siregar Ajak Lawan Ketidakadilan: Suara Kita Bisa Jadi Senjata, Hati-Hati Sama Buzzer!
Meisya Siregar mengajak masyarakat untuk tidak diam saja. Ia menyerukan agar semua orang berani menyuarakan ketidakadilan demi mencegah pihak-pihak tak bertanggung jawab berkuasa.
Vania Rossa | Natasya Regina Melati

Dewiku.com - Artis Meisya Siregar kembali jadi sorotan usai menyuarakan kegelisahannya terkait kondisi bangsa lewat sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya. Istri musisi Bebi Romeo itu menyinggung berbagai kekisruhan yang terjadi di Tanah Air belakangan ini dan menilai bahwa rakyatlah yang selalu menjadi korban.
Dalam unggahan tersebut, Meisya yang kini berusia 46 tahun mempertanyakan berbagai agenda yang sedang berjalan. Menurutnya, di balik hiruk pikuk situasi yang berkembang, masyarakat kecil tetap saja berada di posisi paling dirugikan.
"Tapi apapun agenda yang lagi dijalani, lagi-lagi, rakyat yang jadi korban," tulis Meisya.
Perempuan kelahiran Bandung, 13 April 1979 itu juga menyoroti masa depan generasi mendatang. Ia mengingatkan pentingnya memperjuangkan kehidupan yang lebih layak untuk anak cucu bangsa.
"So, cukup yah! Anak cucu kami butuh negara masa depan yang layak untuk hidup!" tegas ibu tiga anak ini.
Lebih lanjut, Meisya mengibaratkan usaha memperbaiki negara seperti membersihkan sungai yang kotor. Ia menyinggung aksi Pandawara Group, komunitas pemuda pegiat lingkungan, sebagai contoh perjuangan berat yang meski tak sempurna, tetap harus dijalankan demi perubahan.
"Memang enggak akan jadi jernih, perjuangan berat bersihinnya, dan mustahil bisa bebas dari pencemaran," imbuhnya.
Tak berhenti di situ, Meisya juga mengajak masyarakat untuk tidak diam saja. Ia menyerukan agar semua orang berani menyuarakan ketidakadilan demi mencegah pihak-pihak tak bertanggung jawab berkuasa.
"Suarakan terus ketidakadilan, suarakan terus dengan lantang hati nurani, suarakan terus. Kita bukan keset bertuliskan 'Welcome' yang mau diinjek-injek terus! Jangan biarkan manusia-manusia zalim berkuasa di negeri ini," tegasnya.
Terakhir, Meisya berharap agar bangsa Indonesia senantiasa mendapat perlindungan dari Allah SWT.
Baca Juga
Sindiran Halus Soal Etika Publik: Tiara Andini Bongkar Perlakuan Mengejutkan Pejabat di Pesawat
Harga Diri Perempuan Dipertaruhkan? Tren War Duda Usai Cerai Pratama Arhan Viral di Medsos
Dengerin Suara Merdu Shanna Shannon Nyanyi Ibu Pertiwi: Serasa Jadi Doa untuk Negeri
Ulang Tahun Paling Berwarna Sri Mulyani: Dari 63 Karangan Bunga Sindiran sampai Rumah Dijarah
Rumah Tangga Harmonis Versi Ayudia Bing Slamet: Ngalah, Nggak Semua Harus Dilawan
Working Mom Wajib Baca! Cara Jaga Work Life Balance Tanpa Harus Jadi Superwoman
"Semoga Allah masih punya rasa iba untuk melindungi negara tercinta ini, dan tidak menurunkan azab-Nya," tutup Meisya.
Unggahan penuh makna dari Meisya Siregar ini pun ramai diperbincangkan, apalagi di tengah situasi sosial-politik yang sedang memanas. Setelah ini, kita bakal bahas lebih jauh soal bagaimana menyuarakan keadilan lewat media sosial dan cara bijak menghindari buzzer.
Menyuarakan Keadilan di Media Sosial Tanpa Terjebak Buzzer
Media sosial bisa jadi ruang yang sangat kuat untuk menyuarakan keadilan. Tapi kalau nggak bijak, kita malah bisa terjebak dalam pusaran informasi yang nggak jelas atau bahkan jadi sasaran buzzer. Kuncinya adalah menggunakan platform ini untuk berbagi informasi yang benar, membangun kesadaran, serta menjaga etika dalam setiap unggahan maupun interaksi.
1. Jurnalisme Warga
Jangan ragu untuk memanfaatkan media sosial sebagai saksi mata. Kalau melihat peristiwa ketidakadilan, laporkan dengan data dan fakta yang jelas. Dengan begitu, isu tersebut bisa dikenal lebih luas dan tidak tenggelam begitu saja.
2. Membangun Kesadaran
Keadilan sosial perlu terus digaungkan. Caranya? Dukung konten yang relevan dengan memberi tanda suka, komentar positif, berbagi, hingga membuat tagar. Semakin banyak orang yang peduli, semakin kuat suara keadilan di ruang digital.
3. Advokasi dan Edukasi
Media sosial juga bisa jadi ruang edukasi. Bukan hanya sekadar ikut-ikutan tren, tapi juga membagikan wawasan tentang isu keadilan sosial dan mendukung gerakan yang punya tujuan baik.
4. Keterlibatan Komunitas
Ikut diskusi online, berbagi informasi di forum, atau bergabung dengan komunitas digital yang peduli isu keadilan. Dengan begitu, kita bisa membangun kesadaran kolektif dan bikin gerakan jadi lebih solid.
Cara Cerdas Menghindari Buzzer
Buzzer sering kali hadir dengan narasi negatif, penuh polarisasi, bahkan memproduksi hoaks. Nah, biar nggak ikut terseret arus, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Verifikasi Informasi
Jangan langsung percaya dengan semua yang beredar. Pastikan informasi berasal dari sumber yang jelas dan kredibel sebelum dibagikan.
- Selektif dalam Informasi
Pilih dengan bijak apa yang ingin dibagikan. Hindari menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya atau berpotensi merusak.
- Jaga Etika
Hindari menyebarkan konten yang berbau SARA, fitnah, atau hal-hal negatif lain yang bisa memecah belah.
- Perhatikan Pola Konten
Buzzer biasanya menyederhanakan isu jadi hitam-putih. Waspada terhadap akun yang cenderung terlalu ekstrem atau terus-menerus menyebarkan narasi memecah belah.
- Laporkan Konten Negatif
Kalau menemukan akun yang menyebarkan hoaks atau menyerang kelompok tertentu, jangan ragu untuk melaporkannya.
- Fokus pada Konten Konstruktif
Daripada terpancing buzzer, lebih baik isi timeline dengan konten positif yang bisa membangun opini sehat dan bermanfaat.
Media sosial adalah alat yang efektif saat ini. Kita bisa memanfaatkannya untuk menyuarakan keadilan, mengedukasi, dan membangun ruang yang lebih sehat. Selama kita bijak, selektif, dan nggak gampang terpancing narasi buzzer, ruang digital bisa jadi tempat yang benar-benar memberi dampak positif bagi banyak orang.