Fashion

Parade Fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini dalam Kebaya Dua Budaya

Parade ini dalam rangka untuk menghormati tokoh-tokoh perempuan di era modern.

Vika Widiastuti | Kintan Sekarwangi

Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)
Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)

Dewiku.com - Bertepatan dengan Hari Kartini yang jatuh pada hari ini (21/04/2019), Royal Ambarrukmo Yogyakarta bersama Apip’s Batik menyelenggarakan parade fesyen yang bertemakan ‘Kartini dan Perempuan Masa Kini’. Parade fesyen ini menghadirkan kurang lebih 150 sosok perempuan dari berbagai usia dan lintas profesi.

Mereka adalah perempuan-perempuan hebat yang yang peduli akan budaya, emansipasi wanita, dan tujuan mulia lainnya. Parade fesyen peringatan Hari Kartini ini diselenggarakan di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo yang menjadi saksi sejarah gelaran terkonsep.

Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)
Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)

Konsep ini membawakan peragaan busana bertema ‘’Kebaya Peranakan Indonesia’’ hasil dari akulturasi dua budaya oleh 21 perempuan dari tujuh komunitas. Tak hanya parade fesyen saja, namun ada beberapa agenda yang disiapkan oleh Royal Ambarrukmo Yogyakarta bersama Apip’s Batik by Afif Syakur.

Di dalam acara ini, ada sesi di mana para tamu undangan dibuat kagum, yaitu pembacaan surat-surat Kartini yang dibacakan oleh tiga sosok perempuan Kartini di masa kini.

Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)
Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)

Tiga pembaca riwayat serta serpihan surat Kartini yang dibawakan dengan anggun oleh perempuan-perempuan hebat di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, yaitu Maya Dewi selaku Director of Sales & Marketing sebagai tokoh ‘’Kartini’’, Nia Arum Sari selaku Sales Manager sebagai asosiasi ‘’Kardinah’’ dan Wury Handayani selaku Sales Manager sebagai ‘’Roekmini’’.

Peringatan Hari Kartini Royal Ambarrukmo Yogyakarta ini mambuat fragmen peragaan busana dalam balutan Kebaya Peranakan Indonesia dari Komunitas PPBI Sekarjagad, PPBBN Kamala Nusantara, LCY Puspita Mataram, dan Colours Community.

Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)
Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)

Selain itu, masih ada Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) dan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT). Ada pula perwakilan penggiat industri perhotelan Yogyakarta.

Parade fesyen ini dikemas menarik dengan latar cerita rumah Peranakan dan para tamu yang tampil anggun memakai baju kebaya. 21 satu sosok perempuan yang secara bergantian memperagakan koleksi busana indah dengan motif batik khusus yang telah dipersiapkan oleh perancang kenamaan Arif Syakur.

Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)
Parade fesyen Kartini dan Perempuan Masa Kini Royal Amabrrukmo Yogya. (Dewiku.com/Kintan Sekarwangi)

‘’Agenda tahunan peringatan Hari Kartini di Royal Ambarrukmo Yogyakarta adalah bentuk konkret bakti budaya kami dan apresiasi kepada komunitas yang telah menjadikan Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, lebih berwarna indah,’’ ungkap Ian Cameron, General Manager Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

‘’Hari Kartini tahun 2019 ini kami peringati dalam semangat pluralism yang membawakan tema ‘Kebaya Peranakan Indonesia’, di mana akulturasi budaya dan toleransi antar ras dan suku membaur dalam busana yang ayu. Kami menjadikan momen ini untuk menjadikan refleksi positif bagi para perempuan Indonesia dan keberagamannya agar tetap harmonis serta tak lupa akan budaya yang mengakar,’’ jelas Afif Syakur selaku perancang busana nasional dan ketua III PPBI Sekar Jagad.

Berita Terkait

Berita Terkini