Ragam

Kekerasan Pada Perempuan dan Anak Bukan Kebetulan, Kurangnya Edukasi Gender Jadi Penyebab

Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi isu serius yang terus menghantui kehidupan masyarakat Indonesia.

Vania Rossa

Ilustrasi kekerasan pada anak. (Freepik)
Ilustrasi kekerasan pada anak. (Freepik)

Dewiku.com - Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi isu serius yang terus menghantui kehidupan masyarakat Indonesia.

Setiap tahun, jumlah kasusnya tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Banyak faktor yang mempengaruhi fenomena ini, namun salah satu penyebab mendasarnya adalah kurangnya pemahaman tentang kesetaraan gender.

Edukasi gender yang minim membuat stereotip, diskriminasi, dan ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan terus terjadi.

Banyak orang masih memegang pola pikir lama bahwa laki-laki adalah sosok dominan, sedangkan perempuan harus tunduk dan patuh.

Pandangan ini menjadi akar dari berbagai bentuk kekerasan, mulai dari verbal, fisik, hingga psikologis.

Tidak sedikit pula anak-anak yang tumbuh dengan konsep bahwa mereka harus diam dan menerima perlakuan tidak adil hanya karena tradisi dan budaya yang bias gender.

Mengapa edukasi gender sejak dini sangat penting? Karena masa anak-anak adalah fase pembentukan karakter dan pola pikir.

Jika sejak kecil mereka diajarkan tentang kesetaraan, maka akan tumbuh generasi yang saling menghargai. Anak laki-laki tidak akan merasa lebih unggul, sementara anak perempuan akan tumbuh percaya diri dan berani menyuarakan pendapat.

Sebaliknya, tanpa edukasi gender, anak laki-laki cenderung menganggap kekerasan sebagai bentuk kekuasaan, dan anak perempuan akan menerima perlakuan tidak adil sebagai sesuatu yang wajar.

Selain keluarga, sekolah dan media memiliki peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai kesetaraan. Kurikulum pendidikan seharusnya memasukkan materi anti-kekerasan, kesetaraan hak, serta cara menghargai perbedaan.

Orang tua pun harus menjadi teladan, misalnya tidak membedakan pekerjaan rumah hanya berdasarkan jenis kelamin atau mengajarkan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.

Minimnya edukasi gender juga berdampak pada keberanian korban untuk melawan. Banyak perempuan dan anak yang memilih diam karena tidak mengetahui hak mereka, atau takut karena tekanan sosial.

Oleh karena itu, edukasi tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga orang dewasa agar kesadaran kolektif tercipta.

Dengan edukasi gender yang benar dan merata, rantai kekerasan bisa diputus. Kesetaraan bukan sekadar jargon, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sudah saatnya kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan adil bagi perempuan dan anak, dimulai dari edukasi sejak dini.

(Clarencia Gita Jelita Nazara)

Berita Terkait

Berita Terkini