Ragam

Kenapa Migrain Lebih Sering Menyerang Perempuan? Ini Jawabannya

Cari tahu jawaban mengapa migrain lebih sering dialami perempuan.

Vania Rossa

Ilustrasi migrain. (Freepik)
Ilustrasi migrain. (Freepik)

Dewiku.com - Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Rasa nyeri yang berdenyut, sering disertai mual, sensitif terhadap cahaya, bahkan suara, membuat penderitanya tidak bisa beraktivitas normal.

Menariknya, migrain lebih banyak dialami perempuan dibandingkan laki-laki. Menurut penelitian, perempuan tiga kali lebih rentan terkena migrain, dan penyebab utamanya ternyata berkaitan erat dengan hormon.

Hormon dan Migrain: Apa Hubungannya?

Salah satu hormon yang paling berpengaruh dalam tubuh perempuan adalah estrogen. Hormon ini berperan dalam mengatur siklus menstruasi, kehamilan, hingga kesehatan tulang.

Namun, fluktuasi kadar estrogen ternyata juga memicu serangan migrain. Ketika kadar estrogen turun drastis, seperti menjelang menstruasi atau setelah melahirkan, risiko migrain meningkat signifikan.

Fenomena ini dikenal sebagai menstrual migraine. Tidak heran banyak perempuan mengeluhkan sakit kepala hebat menjelang haid.

Bahkan, beberapa perempuan juga merasakan migrain saat memasuki masa menopause karena perubahan hormon yang terjadi secara drastis.

Mengapa Perempuan Lebih Rentan?

Selain faktor hormon, perempuan juga menghadapi beban stres yang cukup tinggi akibat peran ganda yang dijalani. Mulai dari pekerjaan, urusan rumah tangga, hingga tekanan sosial, semua itu dapat memicu migrain.

Ditambah lagi, pola tidur yang tidak teratur, konsumsi kafein berlebihan, dan kurangnya olahraga semakin memperparah kondisi ini.

Namun, faktor terbesar tetap ada pada perubahan hormon. Saat kadar estrogen stabil, risiko migrain lebih rendah.

Sebaliknya, saat hormon ini berfluktuasi, serangan migrain lebih mudah muncul. Itulah sebabnya perempuan harus lebih peka terhadap siklus tubuh mereka.

Bisakah Migrain Dicegah?

Sayangnya, migrain tidak bisa benar-benar dihilangkan, tetapi bisa dikendalikan. Langkah pencegahan sederhana, seperti menjaga pola tidur, mengurangi konsumsi kafein, rutin berolahraga, dan mengelola stres, bisa dilakukan.

Bagi perempuan yang mengalami migrain parah saat menstruasi, konsultasi dengan dokter sangat disarankan. Ada terapi hormonal atau obat-obatan tertentu yang bisa membantu mengurangi frekuensi serangan.

Selain itu, mencatat migraine diary atau jurnal migrain bisa membantu mengenali pola serangan. Dari sini, kita bisa tahu kapan migrain biasanya muncul, apa pemicunya, dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Hidup Sehat untuk Mengurangi Risiko Migrain

Perubahan gaya hidup menjadi kunci utama. Mengonsumsi makanan bergizi, cukup minum air, tidur teratur, dan olahraga ringan seperti yoga dapat membantu mengurangi risiko migrain. Hindari juga makanan pemicu seperti cokelat, makanan olahan, dan minuman beralkohol.

Migrain memang bukan penyakit yang mematikan, tetapi dampaknya bisa sangat mengganggu kualitas hidup. Karena itu, perempuan perlu memahami bahwa hormon memainkan peran besar dalam migrain, dan langkah pencegahan sangat penting agar nyeri kepala ini tidak mengendalikan hidup kita.

(Clarencia Gita Jelita Nazara)

Berita Terkait

Berita Terkini