Ragam
4 Soft Skill Wajib Anak Zaman Now, Bekal Biar Nggak Kalah di Masa Depan!
Kamu yang sudah jadi ibu, perlu tau nih, soft skill penting anak-anak generasi alpha.
Vania Rossa | Estika Kusumaningtyas

Dewiku.com - Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya persaingan global, banyak orang tua masih beranggapan kalau kemampuan di bidang matematika dan komputer masuk dalam soft skill penting yang wajib dikuasai anak.
Pemahaman matematika dan komputer memang penting, tapi itu hanya hard skill yang bisa dipelajari kapan saja. Padahal, agar bisa sukses di masa depan nggak melulu tentang raihan nilai akademik.
Lebih dari itu, anak perlu dibekali dengan soft skill yang membentuk karakter, cara berpikir, dan kepekaan sosial mereka agar mampu menjadi pribadi yang utuh.
Soft Skill Penting untuk Anak agar Survive di Masa Depan
Ada beberapa soft skill penting yang layak diajarkan sejak din agar bisa survive di masa depan. Keterampilan ini bisa jadi fondasi yang bukan hanya berlaku di dunia kerja, tapi juga dalam kehidupan nyata yang penuh tantangan.
1. Self Awareness: Mengenal Diri Sendiri Sejak Dini
Self awareness atau kesadaran diri adalah kemampuan anak untuk mengenali siapa dirinya, apa kelebihan, dan apa kekurangannya. Anak yang memiliki self awareness biasanya lebih percaya diri, mampu menempatkan diri di berbagai situasi.
Mengajarkan skill ini bisa dilakukan melalui percakapan sehari-hari. Misalnya, tanyakan kepada anak: “Apa yang kamu suka dari dirimu?” atau “Bagian mana yang menurutmu bisa diperbaiki?” demi membangun pemahaman pribadi.
Dengan cara ini, anak akan belajar melakukan refleksi. Nantinya, mereka akan jadi pribadi yang lebih otentik, nggak mudah terbawa arus, dan nggak minder saat berada di lingkungan baru.
2. Active Listening: Mendengar Sebelum Berbicara
Baca Juga
Presiden yang Romantis: Emmanuel Macron Pasang Badan, Gugat Influencer yang Tuduh Istri Transgender
Kenapa Migrain Lebih Sering Menyerang Perempuan? Ini Jawabannya
Hari Kesetaraan Perempuan: Sitti Yara Ajak Perempuan Nggak Takut Masuk Politik
Kekerasan Pada Perempuan dan Anak Bukan Kebetulan, Kurangnya Edukasi Gender Jadi Penyebab
Gen Z Kompak Bilang Lara Raj Katseye Standar Cantik Universal, Emang Apa Alasannya?
Apa Itu Beige Flag, Sinyal Hubungan yang Nggak Bahaya Tapi Bisa Bikin Mikir Dua Kali
Di era media sosial, anak-anak terbiasa ingin cepat didengar. Sayangnya, mereka sering lupa untuk mendengarkan orang lain dengan tuntas. Padahal, kemampuan mendengarkan secara aktif juga penting saat bernegosiasi atau menghadapi konflik.
Kemampuan ini menuntut anak fokus pada lawan bicara tanpa interupsi, lalu mencoba memahami pesan sebelum memberi tanggapan. Skill ini juga mengajarkan anak untuk menghargai orang lain, meski berbeda pendapat.
Orang tua bisa mulai dari kebiasaan kecil, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian saat anak bercerita. Dari sini, anak belajar kalau mendengarkan adalah bagian penting dari komunikasi yang sehat.
3. Grit and Resilience: Belajar Bangkit dari Kegagalan
Pastikan juga anak diajarkan menerima kegagalan dan belajar untuk bangkit kembali. sebab nantinya akan ada banyak rintangan, kegagalan, dan tantangan yang harus dihadapi. Namun, sering kali orang tua ingin melindungi anak dari kegagalan.
Padahal, kegagalan adalah guru terbaik dan anak perlu belajar kalau jatuh itu wajar, tapi bangkit lagi adalah kewajiban. Dengan begitu, mereka bakal jadi pribadi yang nggak takut gagal dan nggak mudah menyerah.
Misalnya, saat anak kalah dalam lomba atau gagal meraih nilai yang diharapkan, jangan langsung menyalahkan atau menghibur berlebihan. Sebaliknya, ajak mereka berdiskusi tentang apa yang bisa diperbaiki dan bagaimana cara mencoba lagi.
4. Empathy: Belajar Memahami Orang Lain
Dalam dunia yang semakin individualistis, empati menjadi soft skill yang nggak boleh diabaikan. Empati berarti anak mampu memahami perasaan, pengalaman, dan sudut pandang orang lain.
Dengan empati, anak belajar kalau dunia ngga hanya berputar di sekitarnya. Mereka bisa lebih peduli, menghargai perbedaan, dan menjadi pribadi yang utuh dalam pergaulan hingga bisa memiliki hubungan sosial yang sehat.
Cara sederhana mengajarkan empati yaitu dengan melibatkan anak dalam kegiatan sosial, seperti berbagi dengan sesama atau mendengarkan cerita orang lain. Ajak mereka membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain.